News

Pentagon Akui Serangan Militer AS Tewaskan 153 Warga Yaman pada 2025

u_57b08304-7b07-4de4-b0a5-d54e15881542

Pentagon Akui Serangan Militer AS Tewaskan 153 Warga Yaman dalam Operasi 2025

Portalnara.com – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon secara resmi mengakui bahwa serangan militer AS telah menewaskan 153 warga sipil Yaman sepanjang tahun 2025. Pengakuan ini disampaikan melalui dokumen yang diserahkan kepada Kongres Amerika Serikat, yang mengonfirmasi bahwa operasi militer negara tersebut menyebabkan 153 korban jiwa dan melukai 243 orang lainnya. Seluruh korban berasal dari tiga serangan udara utama yang diluncurkan di Yaman selama kampanye melawan kelompok Houthi.

Dokumen setebal 12 halaman yang ditujukan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat ini menandai pengakuan resmi pertama dari pemerintah AS terkait dampak operasi tersebut. Operasi yang diberi nama Operation Rough Rider ini diinisiasi oleh Presiden Donald Trump dengan tujuan menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Pentagon Akui Serangan Militer AS Tewaskan 153 warga sipil dalam laporan yang mencakup periode Januari hingga April 2025.

Tiga Serangan Utama di Bulan April 2025

Komando Sentral AS (CENTCOM) menyatakan bahwa ketiga serangan tersebut memang lebih mungkin menyebabkan bahaya dan jatuhnya korban dari pihak sipil. Serangan pertama terjadi pada 6 April 2025 di sebuah permukiman warga Sanaa yang menewaskan lima orang sipil. Serangan kedua menghantam kawasan Pelabuhan Ras Isa pada 17 April 2025 dengan dampak yang lebih besar.

Insiden di Pelabuhan Ras Isa merenggut nyawa 80 warga sipil serta melukai 171 orang. Serangan ketiga berlangsung pada 28 April 2025 di dekat Saada dan menewaskan 68 warga sipil. Lokasi yang dihantam tersebut diduga merupakan pusat penampungan para imigran asal Afrika yang ditahan oleh kelompok Houthi. Organisasi hak asasi manusia internasional mendesak agar insiden pengeboman pelabuhan dan fasilitas penampungan imigran diselidiki sebagai potensi kejahatan perang.

Perbedaan Data dengan Lembaga Pemantau Independen

Jumlah korban sipil yang diakui oleh Pentagon berbeda dengan data yang dikumpulkan oleh lembaga pemantau independen. Laporan resmi militer AS dinilai belum mencakup seluruh dampak kerusakan dari ratusan serangan udara yang telah dilancarkan. Pentagon Akui Serangan Militer AS Tewaskan 153 warga sipil, namun angka ini masih jauh di bawah estimasi lembaga pemantau.

Organisasi nirlaba Yemen Data Project mencatat bahwa militer AS melancarkan setidaknya 339 serangan udara selama Operation Rough Rider. Lembaga tersebut mencatat sedikitnya 238 warga sipil tewas, termasuk 24 anak-anak, serta 467 orang mengalami luka-luka. Lembaga pemantau konflik Airwars juga memperkirakan sedikitnya 258 warga sipil tewas akibat pengeboman tersebut.

“Ini adalah kegagalan mematikan bagi AS dalam mematuhi kewajiban utama hukum humaniter internasional,” kata Kristine Beckerle, Wakil Direktur Regional Amnesty International, dilansir The Hill.

Korban Kapal dan Perubahan Kebijakan Pentagon

Laporan Pentagon tahun 2025 juga tidak memasukkan data korban dari operasi penyerangan kapal di Laut Karibia dan Pasifik Timur yang menewaskan lebih dari 200 orang. Pihak militer AS mengklaim para penumpang kapal tersebut merupakan pelaku teror narkoba sehingga tidak dikategorikan sebagai warga sipil. Pengakuan ini muncul di tengah perubahan kebijakan besar-besaran di lingkungan Pentagon.

Di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, militer AS lebih mendorong efektivitas tempur dibandingkan aturan hukum yang ketat. Pentagon Akui Serangan Militer AS Tewaskan 153 warga sipil dalam konteks perubahan kebijakan yang lebih longgar ini. Seiring dengan perubahan tersebut, Pentagon melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap program mitigasi korban sipil dan Civilian Protection Center of Excellence.

“Kami melepaskan ikatan para prajurit untuk mengintimidasi, memburu, dan membunuh musuh negara,” ujar Hegseth, dilansir CBS News.

Jumlah staf di pusat perlindungan sipil dipangkas dari 40 pegawai menjadi hanya sembilan pegawai pada akhir tahun fiskal 2025. Rancangan anggaran Pentagon untuk tahun 2026 bahkan mengusulkan pembubaran program perlindungan sipil secara bertahap. Pengurangan anggaran belanja ini mencakup pemotongan dana personel lebih dari 2 juta dolar AS (sekitar Rp35,7 miliar) dan pemangkasan dukungan misi hingga 9,5 juta dolar AS (sekitar Rp169,7 miliar).

Frequently Asked Questions

Berapa total korban sipil menurut laporan Pentagon? Pentagon mengakui 153 warga sipil tewas dan 243 orang terluka akibat tiga serangan udara utama di Yaman pada tahun 2025.

Apa nama operasi militer yang menyebabkan korban tersebut? Operasi tersebut dinamakan Operation Rough Rider, yang diluncurkan untuk menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah.

Bagaimana perbedaan data antara Pentagon dan lembaga pemantau? Yemen Data Project mencatat 238 korban sipil tewas, sementara Airwars memperkirakan 258 korban, keduanya lebih tinggi dari angka resmi Pentagon.

Apa dampak perubahan kebijakan terhadap program perlindungan sipil? Pentagon memangkas jumlah staf dari 40 menjadi 9 pegawai dan mengusulkan pembubaran program perlindungan sipil secara bertahap dalam anggaran 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *