Dari Delapan Ekor ke 97: Kisah Penyelamatan Murai Maratua
Portalnara.com – Spesies burung endemik Indonesia yang nyaris lenyap dari habitat alaminya kini kembali menunjukkan tanda kehidupan. Murai Maratua, yang suatu ketika hanya tersisa segelintir individu, berhasil dipulihkan populasinya melalui program penangkaran terstruktur. Keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi konservasi yang dijalankan dengan ketelitian tinggi.
Titik Balik: Delapan Burung dalam Sangkar
Jochen Klaus Menner, kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), mengisahkan bagaimana timnya menemukan sisa populasi Murai Maratua. Ketika keberadaan spesies ini tak lagi terdeteksi di hutan, penelusuran dilakukan hingga akhirnya ditemukan delapan ekor yang selama ini dipelihara masyarakat Pulau Jawa karena keindahan kicaunya.
“Akhirnya kami, tim PCBA, ketemu delapan individu: tiga jantan, lima betina. Itu yang terakhir. Delapan individu itu bukan di alam, di sangkar. Semua di sangkar di Pulau Jawa ini.”
Jochen menegaskan bahwa delapan ekor tersebut merupakan sisa terakhir spesies di muka bumi, dan seluruhnya berada dalam kondisi tertangkara, bukan hidup bebas.
Keputusan Kritis: Ex-Situ, Bukan In-Situ
Dengan populasi sedemikian kecil, pelepasliaran langsung ke habitat asli dinilai berisiko tinggi. Predator, cuaca ekstrem, maupun ketidakmampuan reproduksi dapat mengakhiri spesies secara permanen dalam hitungan singkat.
“Kalau itu sudah terjadi, konservasi in-situ sudah tidak punya nilai lagi. Kalau mau ke in-situ, konsekuensinya delapan individu itu dibungkus, dikirim ke Pulau Maratua, dilepasliarkan. (Tapi) satu jantan dimakan kucing, satu jantan kena angin besar, satu jantan infertil—jenisnya punah. Satu-satunya solusi, 8 individu itu harus dibungkus, dimasukin ke fasilitas yang layak untuk konservasi ex-situ.”
Berdasarkan pertimbangan tersebut, seluruh individu dialihkan ke fasilitas penangkaran yang dirancang khusus untuk menjamin kelangsungan hidup dan reproduksi.
Perjalanan Penangkaran: Dari Nol ke 97
Operasi penangkaran resmi dimulai pada 11 November 2018, bertepatan dengan kedatangan individu pertama yang diberi kode ‘MSH 001’. Hanya dalam rentang satu tahun, program perkembangbiakan mencatat menetasnya anakan pertama. Sejak saat itu, populasi tumbuh secara konsisten hingga mencapai angka yang jauh melampaui ekspektasi awal.
“Tahun 2019, lagi November, anakan pertama menetas di PCBA. Dan dari situ populasinya berkembang. Hari ini di PCBA sendiri ada 97 individu Murai Maratua. Itu keturunan dari 8 individu pertama.”
Jochen menambahkan bahwa secara morfologi Murai Maratua memiliki perbedaan cukup signifikan dibandingkan jenis murai lainnya, sehingga kehilangan spesies ini akan menjadi kerugian yang tidak ringan bagi keanekaragaman hayati Indonesia.
“Secara morfologi cukup berbeda dengan murai lain. Berarti kehilangan Murai Maratua itu tidak begitu ringan. Tapi kalau (konservasi) memang dilakukan dengan fokus, dengan kepedulian, memang bisa terjadi. Jenisnya diselamatkan. Dari 8 individu tersisa di dunia, sampai 97 individu hari ini.”
Fasilitas di Balik Layar
Keberhasilan program ini ditopang oleh infrastruktur back of house di Taman Safari Prigen yang dibangun secara khusus untuk keperluan pengembangbiakan, bukan sekadar area pameran bagi pengunjung. Pendekatan konservasi yang terfokus dan berkelanjutan inilah yang mengubah delapan ekor burung dalam sangkar menjadi populasi yang kembali berdenyut dengan 97 individu.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Hampir Punah Burung Murai Maratua Sukses?
Hampir Punah Burung Murai Maratua Sukses is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Hampir Punah Burung Murai Maratua Sukses matter?
Hampir Punah Burung Murai Maratua Sukses matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

