News

Sentil Arya Wedakarna, DPD: Anggota Tak Berhak Dapat Ajudan TNI

673780675_1791heic_816b4280-e152-4373-b686-95e96b18a09f

Kontroversi Ajudan TNI Militer di Samping Senator DPD: Hasby Yusuf Tegaskan Tidak Ada Hak Otomatis

Portalnara.com – Pertanyaan tentang siapa yang berhak mendapat pengawalan personel militer aktif kembali menjadi sorotan publik setelah seorang senator DPD RI tampil bersama ajudan berseragam TNI di sebuah acara internasional. Insiden yang memicu gelombang kritik di media sosial itu berawal dari kehadiran Arya Wedakarna, senator asal Bali, dalam sebuah kontes kecantikan transgender yang digelar di Thailand. Di sampingnya tampak seorang perwira berseragam Angkatan Laut yang, menurut Arya, telah melekat sebagai ajudan pribadinya selama kurang lebih satu tahun.

Kehadiran tersebut langsung memicu reaksi keras dari internal lembaga. Hasby Yusuf, Ketua Badan Kehormatan DPD RI, secara tegas menyatakan bahwa tidak satu pun anggota DPD RI memiliki hak otomatis maupun jaminan protokoler untuk memperoleh ajudan pribadi dari kesatuan Tentara Nasional Indonesia. Penegasan itu disampaikan Hasby pada Kamis (4/8/2026) sebagai respons atas klaim Arya Wedakarna.

Fondasi Hukum yang Ditekankan

Hasby Yusuf merujuk pada sejumlah instrumen hukum yang mengatur secara eksplisit batasan tersebut. Undang-Undang MD3, Undang-Undang TNI, Undang-Undang Keprotokolan, serta Tata Tertib DPD RI semuanya memuat ketentuan yang membatasi akses anggota lembaga legislatif atas personel militer aktif. Dalam kerangka regulasi itu, kehadiran ajudan TNI di samping seorang senator bukan hal yang lazim, melainkan pengecualian yang harus memenuhi syarat ketat.

“Secara regulasi, anggota DPD RI tidak memiliki hak otomatis atau jaminan protokoler untuk mendapat ajudan pribadi dari kesatuan TNI.”

Hasby menjelaskan bahwa satu-satunya kondisi di mana anggota DPD dapat dikawal oleh prajurit TNI aktif adalah ketika terdapat ancaman keselamatan serius yang dinilai sah secara prosedur dinas. Bahkan dalam situasi tersebut, mekanisme bantuan pengamanan khusus harus terukur dan diajukan melalui Kesekjenan DPD RI. Bentuk pengawalan yang diperkenankan dalam konteks itu adalah staf ahli atau asisten pribadi berstatus sipil, bukan personel militer yang sedang aktif bertugas.

Siapa yang Sebenarnya Bisa Meminta Pengamanan TNI?

Hasby Yusuf menekankan bahwa permohonan penugasan atau pengamanan dari TNI secara formal hanya dapat diajukan oleh pejabat negara tertentu. Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, serta Pimpinan Lembaga Tinggi Negara termasuk dalam daftar tersebut. Dalam konteks DPD RI, hanya pimpinan lembaga yang berkedudukan sebagai lembaga tinggi negara yang memiliki kapasitas untuk meminta pengamanan khusus dari TNI.

“Ini tak berlaku umum untuk anggota DPD RI secara umum.”

Penjelasan ini menggarisbawahi hierarki protokol yang berlaku di Indonesia. Hak protokoler, sebagaimana diuraikan Hasby, mencakup penghormatan, perlakuan khusus, dan tata tempat yang berkaitan dengan jabatan. Hak tersebut dapat dijalankan dalam acara kenegaraan, acara resmi, maupun saat menjalankan tugas kelembagaan seperti reses, kunjungan kerja, dan kegiatan institusional lainnya yang telah diatur secara rinci dalam peraturan perundang-undangan.

Penjelasan Arya Wedakarna

Arya Wedakarna sendiri memberikan keterangan kepada wartawan pada Rabu (2/9/2026) mengenai sosok berseragam TNI yang mendampingi dirinya di Thailand. Ia menegaskan bahwa ajudan tersebut berasal dari kedinasan TNI AL dan telah melekat sebagai pengawalnya selama satu tahun.

“Itu ajudan saya itu sudah satu tahun sama saya. Kemudian sudah bertugas. Memang dari TNI AL. Dan memang kita kan lihat di Thailand tuh kan lagi, lagi rawan ya. Kemarin masih ada perang, perang antara Thailand, Myanmar.”

Arya menambahkan bahwa kondisi keamanan di Thailand saat ini dinilai rawan setelah negara tersebut berkonflik dengan Kamboja. Ia juga menyebut adanya ledakan bom dan penembakan yang kerap terjadi di wilayah tersebut, sehingga kehadiran ajudan dianggap sebagai langkah pengamanan yang wajar.

“Kemudian kemarin tuh ada, di sana kan sering ada ledakan bom. Dan juga ada penembakan. Jadi memang melekat aja, memang tugasnya mengawal saya, nggak ada hubungannya.”

Implikasi dan Pesan kepada Seluruh Senator

Kontroversi ini bukan sekadar soal satu ajudan di satu acara. Ia menyentuh persoalan lebih luas tentang batas kewenangan protokoler pejabat negara dan bagaimana publik memaknai penggunaan atribut militer dalam konteks politik. Ketika seorang senator tampil bersama personel TNI aktif di acara yang tidak berkaitan dengan tugas negara, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal legalitas, melainkan soal proporsionalitas dan etika jabatan.

Hasby Yusuf menutup pernyataannya dengan pesan langsung kepada seluruh anggota DPD RI. Ia mengingatkan bahwa kedudukan sebagai pejabat negara harus dijalankan dengan proporsional dan tidak perlu dibungkus dengan sensasi yang tidak diperlukan.

“Kita semua digaji oleh rakyat untuk melaksanakan amanah bukan sibuk melakukan sensasi yang tidak perlu.”

Pernyataan itu menggarisbawahi prinsip dasar akuntabilitas: setiap senator menerima gaji dari anggaran negara yang bersumber dari pajak rakyat, dan setiap tindakan yang mereka lakukan di ruang publik—termasuk di luar negeri—terikat oleh norma protokoler dan ekspektasi publik. Dalam konteks Indonesia, di mana TNI memiliki posisi khusus dalam hierarki negara dan masyarakat, penggunaan atribut militer oleh pejabat sipil tanpa dasar hukum yang jelas akan selalu mengundang pertanyaan tentang batas kewenangan dan potensi penyalahgunaan simbol negara.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari TNI AL maupun dari Kesekjenan DPD RI mengenai status administratif ajudan yang dimaksud. Klarifikasi tersebut akan menjadi penentu apakah insiden ini semata-malah soal salah paham protokol atau indikasi adanya praktik yang melampaui ketentuan yang berlaku.

Frequently Asked Questions

What is Sentil Arya Wedakarna DPD?

Sentil Arya Wedakarna DPD is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sentil Arya Wedakarna DPD matter?

Sentil Arya Wedakarna DPD matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *