News

Indonesia Krisis Kekeringan dan Karhutla, MUI Imbau Umat Salat Istisqa

whatsapp-image-2023-02-02-at-114656-1-cd328875dec6c7e77ae79cfe320b3f26

Imbauan Salat Istisqa dari MUI di Tengah Krisis Kekeringan dan Karhutla yang Membayangi Indonesia

Portalnara.com – Kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun ini telah memicu krisis air bersih yang semakin meluas sekaligus memperbanyak titik api di kawasan-kawasan hutan. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini bukan sekadar gangguan musiman, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat yang terpapar partikel halus setiap hari. Di tengah situasi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil langkah spiritual dengan mengimbau seluruh umat Muslim di tanah air untuk melaksanakan salat istisqa, yakni salat khusus yang ditujukan untuk memohon diturunkannya hujan oleh Allah SWT.

Imbauan ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, melalui akun media sosial X pribadinya, @cholilnafis, pada Jumat (4/9/2026). Dalam pesannya, Cholil menegaskan bahwa kondisi kemarau dan kebakaran yang terus berkepanjangan menuntut respons kolektif dari umat, baik secara teknis maupun spiritual.

“Kemarau dan Kekeringan melanda kita bahkan kebakaran karhutla masih terus terjadi, mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk salat istisqa (minta hujan).”

Dimensi Spiritual di Balik Upaya Teknis

Cholil menjelaskan bahwa salat istisqa bukan sekadar ritual formalitas, melainkan wujud ikhtiar spiritual dan kepasrahan total seorang hamba kepada Allah SWT ketika menghadapi musibah yang berkepanjangan. Ia menekankan bahwa doa bersama memiliki fungsi sebagai dorongan moral dan spiritual yang tidak dapat digantikan oleh tindakan teknis semata. Pemerintah dan petugas pemadam kebakaran memang telah bekerja di lapangan untuk memadamkan api dan menyalurkan bantuan air bersih, namun menurut Cholil, dimensi keimanan tetap menjadi pilar penting yang menopang ketahanan psikologis masyarakat di tengah krisis.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kekeringan dan asap karhutla telah melampaui batas gangguan aktivitas harian. Paparan partikel asap dalam jangka waktu lama meningkatkan risiko gangguan pernapasan, iritasi mata, serta memperburuk kondisi penderita penyakit kronis. Oleh karena itu, Cholil berharap pengurus masjid, lembaga keagamaan, dan masyarakat luas di daerah terdampak segera mengoordinasikan pelaksanaan salat istisqa secara berjamaah agar efek spiritualnya terasa lebih kuat dan terorganisir.

Apa Itu Salat Istisqa dan Landasan Hukumnya

Secara etimologis, istilah al-istisqa merujuk pada permintaan curahan air penghidupan, atau dalam istilah Arab disebut thalab al-saqaya. Dalam klasifikasi fikih, para ulama menempatkan salat istisqa sebagai salat sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki kedudukan tinggi dalam hierarki ibadah. Salat ini dikerjakan secara khusus untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan di wilayah yang sedang mengalami kekeringan.

Praktik salat istisqa berakar pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, kemudian beliau melaksanakan salat dua rakaat bersama para sahabat tanpa didahului azan maupun iqamat. Setelah salat, beliau berdiri menyampaikan khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Pada saat itu, beliau mengalihkan wajahnya dari arah hadirin menuju kiblat, mengangkat kedua tangan, serta membalikkan selendang sorbannya dari pundak kanan ke pundak kiri dan sebaliknya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن

Terjemahan hadis tersebut menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rakaat bersama para sahabat tanpa azan dan iqamat, kemudian berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Seketika itu beliau mengalihkan wajahnya menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangannya, dan membalikkan selendang sorbannya dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya.

Panduan Pelaksanaan Salat Istisqa

Kementerian Agama RI telah menyusun panduan teknis pelaksanaan salat istisqa yang dapat diikuti oleh masyarakat. Berikut rangkaian tata caranya:

Pertama, imam dan seluruh makmum berkumpul di tanah lapang untuk melaksanakan salat secara berjamaah. Lokasi terbuka dipilih agar seluruh jemaah dapat hadir tanpa hambatan fisik.

Kedua, salat dimulai tanpa didahului azan dan iqamat. Imam dan makmum berniat membaca niat salat istisqa dengan lafaz: أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى

Keempat, setelah takbiratul ihram, imam dan makmum melakukan tujuh kali takbir pada rakaat pertama serta lima kali takbir pada rakaat kedua. Pada setiap rakaat, imam membaca surat al-Fatihah dan satu surat pendek secara jelas agar dapat didengar oleh para makmum. Rakaat ditutup dengan dua sujud dan duduk di antara dua sujud.

Keempat, pada rakaat kedua setelah sujud, imam dan makmum melakukan duduk tahiyyat akhir serta membaca bacaan tahiyyat, tasyahhud, dan selawat sebagaimana lazim dalam salat wajib. Salat diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri.

Keenam, imam menyampaikan khutbah yang didengarkan oleh seluruh jemaah. Khutbah salat istisqa terdiri dari dua bagian yang disampaikan khatib dengan cara berdiri, diselingi satu kali duduk di antara keduanya. Rukun dan tata cara khutbah ini sama dengan khutbah yang disampaikan setelah salat Idul Fitri. Pada khutbah pertama, khatib membaca takbir sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua sebanyak tujuh kali.

Dalam materi khutbah, khatib dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertaubat dan memohon ampunan atas segala dosa. Jemaah juga diimbau memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan kebutuhan umat Islam serta seluruh makhluk hidup di tengah berlangsungnya kemarau panjang. Khatib disunnahkan membaca doa penutup pada akhir khutbah pertama maupun khutbah kedua, lalu membalikkan badan membelakangi jemaah untuk menghadap kiblat.

Imbauan MUI ini menjadi pengingat bahwa di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, respons masyarakat tidak boleh terbatas pada dimensi teknis semata. Pendekatan spiritual yang terorganisir, seperti salat istisqa berjamaah, turut membangun solidaritas sosial dan ketahanan mental kolektif yang dibutuhkan untuk melewati masa-masa sulit akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan di Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Indonesia Krisis Kekeringan dan Karhutla MUI Imbau?

Indonesia Krisis Kekeringan dan Karhutla MUI Imbau is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Indonesia Krisis Kekeringan dan Karhutla MUI Imbau matter?

Indonesia Krisis Kekeringan dan Karhutla MUI Imbau matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *