PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Relaksasi DHE SDA Berlaku Hari Ini, Segini Potensi Devisa dari 64 Eksportir

Published September 1, 2026 · Updated September 1, 2026 · By Jennifer Johnson - portalnara.com

Foto : Jennifer Johnson - portalnara.com

Relaksasi Penempatan Devisa Tambang Resmi Berlaku: 64 Eksportir Besar Kini Cukup Menahan 30 Persen Selama Tiga Bulan

Portalnara.com – Per 1 September 2026, aturan baru mengenai kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) mulai diterapkan bagi sejumlah perusahaan tambang berskala besar. Perubahan ini membuka ruang bagi 64 eksportir untuk tidak lagi menahan seluruh nilai devisa ekspornya selama satu tahun penuh di dalam negeri. Sebagai gantinya, mereka cukup menempatkan minimal 30 persen dari total devisa yang diterima, dengan jangka waktu paling singkat tiga bulan. Aturan tersebut tertuang dalam Pasal 18A Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 dan ditujukan khusus bagi eksportir yang memenuhi kriteria tertentu.

Implikasi finansial dari kebijakan ini cukup signifikan. Dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS, potensi devisa yang tercakup dalam skema relaksasi ini bisa mencapai sekitar 40 miliar dolar AS per tahun, atau setara kurang lebih Rp712 triliun. Angka tersebut mencerminkan besarnya arus valuta asing yang mengalir dari sektor pertambangan Indonesia ke pasar global setiap tahunnya.

Skala Perusahaan yang Menerima Fasilitas

Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menjelaskan bahwa estimasi nilai devisa tersebut berpijak pada skala ekspor perusahaan-perusahaan yang memperoleh fasilitas. Meskipun secara kuantitas hanya 64 entitas, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan pemain utama dalam rantai industri nikel, stainless steel, tembaga, emas, dan alumina.

"Kami memperkirakan kebijakan ini mencakup DHE sekitar 30 miliar dolar AS sampai 40 miliar dolar AS per tahun. Angka tersebut cukup masuk akal karena kelompok yang mendapat fasilitas ini didominasi perusahaan besar dalam rantai industri nikel, stainless steel, tembaga, emas, dan alumina."

Proporsi jumlah perusahaan penerima fasilitas memang relatif kecil — sekitar 12 persen dari total 537 eksportir pertambangan yang tercatat. Namun, bobot nilai ekspornya jauh melampaui proporsi tersebut. Dari 64 perusahaan yang tercantum, sebanyak 58 memiliki afiliasi dengan pemegang saham asal Tiongkok dan Hong Kong. Di antara mereka terdapat smelter berkapasitas besar yang beroperasi di kawasan Morowali, Weda Bay, dan Obi, serta perusahaan-perusahaan di sektor tembaga dan emas seperti Freeport Indonesia, Vale Indonesia pada segmen nikel matte, dan Well Harvest Winning pada segmen alumina.

"Karena itu, saya melihat ini bukan sebagai pengecualian kecil, tetapi sebagai relaksasi untuk kelompok perusahaan yang justru memiliki arus devisa sangat besar."

Mekanisme Arus Dana dan Estimasi Bulanan

Dengan mengambil titik tengah estimasi DHE sebesar 35 miliar dolar AS per tahun, arus devisa bulanan yang tercakup dalam kebijakan ini berada di kisaran 2,9 miliar dolar AS. Dalam rupiah, nilai tersebut setara sekitar Rp52 triliun per bulan pada kurs Rp17.800 per dolar AS.

Yusuf menghitung bahwa dengan kewajiban penempatan 30 persen, sekitar 875 juta dolar AS akan masuk ke rekening khusus setiap bulannya. Selama periode tiga bulan, dana yang mengendap di sistem keuangan domestik mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS, atau setara kurang lebih Rp47 triliun. Setelah masa tiga bulan berlalu, jumlah tersebut cenderung stabil karena dana dari bulan pertama mulai dapat ditarik dan langsung digantikan oleh dana masuk dari bulan berikutnya. Yang terbentuk, kata Yusuf, bukanlah akumulasi devisa yang terus membengkak, melainkan semacam kolam dana yang berputar secara berkelanjutan.

Sebagai ilustrasi konkret, apabila ekspor Freeport Indonesia diasumsikan berada di kisaran 6 hingga 7 miliar dolar AS per tahun, maka arus DHE bulanan perusahaan itu berada di rentang 500 sampai 580 juta dolar AS. Di bawah skema lama, dana tersebut secara bertahap akan menumpuk selama 12 bulan penuh. Dalam skema baru, yang wajib ditahan hanya sekitar 30 persen dengan tenor tiga bulan, sehingga posisi dana yang mengendap akhirnya berkisar 450 sampai 525 juta dolar AS. Yusuf menegaskan bahwa angka per perusahaan ini bersifat ilustratif karena data DHE berdasarkan masing-masing NPWP tidak dipublikasikan secara terbuka.

Repatriasi dan Retensi: Dua Konsep yang Berbeda

Salah satu hal penting yang perlu dipahami pembaca adalah perbedaan antara devisa yang masuk ke sistem keuangan Indonesia dengan devisa yang wajib ditahan di dalam negeri. Yusuf menekankan bahwa relaksasi yang diberikan pemerintah tidak menghapus kewajiban repatriasi DHE SDA. Hasil ekspor tetap harus dibawa kembali ke sistem keuangan domestik.

"Repatriasi hanya memastikan devisa masuk ke sistem keuangan Indonesia, sementara retensi memastikan devisa tersebut tetap berada di dalam negeri dalam periode tertentu."

Dengan demikian, perubahan yang terjadi pada 1 September 2026 ini bersifat teknis-operasional: jangka waktu dan proporsi penahanan dana yang dipersingkat, bukan penghapusan total kewajiban. Bagi otoritas moneter dan perbankan, skema baru ini mengubah dinamika likuiditas valuta asing di dalam negeri secara struktural. Dana yang sebelumnya terkunci selama satu tahun kini berputar dalam siklus tiga bulan, yang berarti kecepatan perputaran devisa di sistem perbankan domestik akan meningkat secara signifikan. Bagi pelaku usaha tambang, relaksasi ini mengurangi beban likuiditas jangka panjang dan memberi ruang lebih luas untuk mengalokasikan dana secara fleksibel, baik untuk ekspansi operasi maupun pembayaran kewajiban luar negeri.

Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan bergantung pada kemampuan otoritas dalam memantau arus dana di rekening khusus serta memastikan bahwa dana yang telah melewati masa retensi benar-benar digunakan untuk kepentingan ekonomi domestik, bukan sekadar dipindahkan ke yurisdiksi lain sesaat setelah periode tiga bulan berakhir.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Relaksasi DHE SDA Berlaku Hari Ini Segini?

Relaksasi DHE SDA Berlaku Hari Ini Segini is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Relaksasi DHE SDA Berlaku Hari Ini Segini matter?

Relaksasi DHE SDA Berlaku Hari Ini Segini matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.