PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Biografi B.M Diah Sang Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Jennifer Johnson - portalnara.com

Foto : Jennifer Johnson - portalnara.com

Peran Penting B.M Diah dalam Sejarah Pers dan Proklamasi Indonesia

Portalnara.com – Burhanuddin Mohammad Diah, yang lebih dikenal dengan nama B.M Diah, tercatat sebagai salah satu figur terkemuka dalam dunia pers Indonesia. Selain berkarier sebagai jurnalis, ia juga aktif sebagai pengusaha dan diplomat. Pada periode 1966 hingga 1969, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Penerangan ke-17 di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno dan Soeharto. Namun, kontribusi terbesarnya bagi bangsa terletak pada perannya dalam menyelamatkan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

B.M Diah lahir pada tanggal 7 April 1917 di Kotaraja, Banda Aceh, dengan nama asli Burhanuddin. Ia merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara yang lahir dari pernikahan Mohammad Diah dan Siti Sai'dah. Ayahandanya bekerja sebagai pegawai pabean di wilayah Aceh Barat sebelum akhirnya beralih profesi menjadi penerjemah. Status pekerjaan sang ayah membuat keluarga ini cukup dihormati di lingkungan sosialnya. Sayangnya, hanya satu minggu setelah kelahiran B.M Diah, sang ayah meninggal dunia. Delapan tahun kemudian, ibunya juga menyusul kepergian sang suami.

Setelah kehilangan kedua orang tuanya, B.M Diah diasuh oleh kakak perempuannya yang bernama Siti Hafsyah. Dalam bidang pendidikan, ia menempuh studi di Holandsch Inlandcshe School (HIS) sebelum melanjutkan ke Taman Siswa Medan. Ketika berusia 17 tahun, ia melanjutkan pendidikannya di Middlebarre Journalisten School atau Ksatrian Institut di Bandung yang dipimpin oleh E.E Douwes Dekker. Di institut tersebut, B.M Diah memilih konsentrasi jurnalistik, dan pengalaman belajarnya bersama Douwes Dekker sangat membentuk pemikiran serta kemampuan profesionalnya di bidang pers.

Karier Jurnalistik dan Pendirian Harian Merdeka

Setelah menyelesaikan masa pendidikannya, B.M Diah memulai perjalanan kariernya sebagai redaktur di Sinar Deli Medan. Ia juga pernah bekerja di Sin Po dan menduduki posisi pemimpin redaksi di Asia Raya. Salah satu tonggak penting dalam hidupnya adalah pendirian Harian Merdeka. Koran ini pertama kali terbit pada 1 Oktober 1945 melalui percetakan De Unie yang berlokasi di Molenvliet Oost, Jakarta. Dalam edisi perdana, B.M. Diah menjabat sebagai pemimpin redaksi, Joesoef Isak sebagai wakil, dan Rosihan Anwar sebagai redaktur.

Edisi pertama Harian Merdeka memuat berbagai berita seputar Proklamasi, termasuk pembahasan mengenai bendera Merah Putih serta keberadaan pasukan Inggris dan Belanda di Indonesia. Awalnya, koran Merdeka dianggap memiliki sikap radikal sehingga sering kali terjadi benturan dengan Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Untuk mengatasi masalah tersebut, Diah merumuskan strategi baru dengan menonjolkan semboyan "Berpikir Merdeka, Bersuara Merdeka" yang akhirnya diterima oleh masyarakat luas. B.M Diah juga berusaha agar korannya tidak menjadi alat milik partai atau kelompok politik tertentu. Ia ingin menjadikan Merdeka sebagai instrumen perjuangan bangsa, bukan sekadar penopang golongan tertentu.

Penyelamatan Naskah Asli Proklamasi

Salah satu peran paling ikonik dari B.M Diah adalah penyelamatan naskah asli Proklamasi yang ditulis oleh Sukarno. Pada malam penyusunan naskah Proklamasi yang dihadiri oleh Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo pada 16 Agustus 1945, B.M Diah hadir sebagai pemuda yang menunggu di ruang tengah. Setelah naskah tersebut selesai diketik oleh Sayuti Melik, naskah asli hasil tulisan Sukarno sempat terbuang ke tempat sampah. Berkat naluri jurnalistiknya, B.M Diah mengambil teks tersebut dan menyimpannya dengan baik. Tindakan ini menjadikannya kunci penting dalam kelengkapan arsip sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Masa Akhir Kehidupan

Setelah tidak lagi menduduki jabatan sebagai Menteri Penerangan, B.M. Diah kembali aktif di dunia jurnalistik. Ia terpilih menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diakui pemerintah pada tahun 1970. Selanjutnya, ia menjadi anggota Dewan Pembina PWI Pusat pada periode 1973 hingga 1983, serta menjabat sebagai penasihat PWI Pusat dari tahun 1983 sampai 1988. B.M Diah meninggal dunia di Jakarta pada 10 Juni 1996 dalam usia 79 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Beberapa waktu sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia harus menyaksikan saham Merdeka lepas dari kepemilikannya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Biografi B M Diah Sang Penyelamat?

Biografi B M Diah Sang Penyelamat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Biografi B M Diah Sang Penyelamat matter?

Biografi B M Diah Sang Penyelamat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.