PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Biografi Fatmawati, Penjahit Sang Saka Merah Putih dan Ibunda Megawati

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Sandra Gonzalez - portalnara.com

Foto : Sandra Gonzalez - portalnara.com

Fatmawati: Sang Penjahit Bendera Pusaka dan Ibu Negara

Portalnara.com – Di tengah gerimis yang menyapa, Guruh Soekarno Putra menyampaikan kata-kata penuh makna di hadapan makam sang ibu. Ucapan itu mengisahkan sosok wanita yang tak hanya berjasa bagi keluarganya, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam peringatan hari lahirnya pada 5 Februari 1987, Guruh mengingatkan kembali peran penting Fatmawati.

Ibu dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, menjahit dua bahan yang terdiri dari warna merah dan putih, dengan jemari-jemarinya yang lentik yang selalu mengilhami kami semua. Apa hasilnya, ternyata ibu ditakdirkan menjadi pembuat bendera bersejarah yang kini menjadi bendera pusaka Republik Indonesia.

Perempuan yang akrab dipanggil Ibu Fat ini lahir di Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923, tepat pukul dua belas siang. Ia merupakan anak dari pasangan Hasan Din dan Chadijah. Kelahirannya membawa kebahagiaan luar biasa bagi kedua orang tuanya. Awalnya, mereka menyiapkan dua pilihan nama: Siti Jubaidah yang terinspirasi dari salah satu istri Nabi Muhammad SAW, serta Fatmawati yang bermakna bunga teratai. Karena kebingungan memilih, akhirnya dilakukan undian dan nama Fatmawati pun terpilih.

Perjalanan Pendidikan dan Masa Kecil

Hasan bekerja sebagai pegawai perusahaan Borsumij dengan jabatan Klerk, setara dengan bagian tata usaha. Sementara itu, Siti Chodijah mengurus rumah tangga. Gaji yang diterima Hasan memungkinkan keluarga tersebut memiliki hunian di pasar Malbro, Bengkulu, yang merupakan pusat pemerintahan Belanda kala itu.

Fatmawati kecil dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan nilai-nilai Islam yang kuat. Setiap petang, ia belajar membaca Al-Qur'an bersama kakeknya, Datuk Basaruddin. Kehidupan keluarga mengalami perubahan ketika seorang ahli nujum datang dan meramal bahwa Fatmawati akan menikah dengan pria berkedudukan tinggi. Hasan, yang memiliki latar belakang sebagai santri, awalnya menolak ramalan tersebut karena menganggap jabatan tinggi merujuk pada pejabat Belanda.

Pada usia enam tahun, Fatmawati mulai bersekolah di Sekolah Gedang atau sekolah rakyat. Tahun 1930, ayahnya memindahkannya ke HIS, sekolah berbahasa Belanda. Perpindahan ini mengharuskannya menempuh perjalanan sejauh enam kilometer setiap hari. Pagi-pagi, ia menumpang mobil Jeep pengangkut balok es, sementara sorenya ia berjalan kaki bersama teman-temannya melewati terik matahari.

Menghadapi Tantangan Kolonial

Situasi politik memaksa Hasan memindahkan Fatmawati ke HIS Muhammadiyah saat ia berada di kelas tiga. Sebagai Konsul Perserikatan Muhammadiyah, Hasan harus meninggalkan pekerjaannya sebelumnya. Penghasilannya pun menurun drastis. Ia kemudian beralih berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Fatmawati pun ikut membantu dengan menjajakan kacang bawang atau menjaga warung di depan rumah.

Keluarga ini akhirnya pindah ke Palembang, tempat Hasan membuka usaha percetakan. Fatmawati melanjutkan pendidikannya di kelas 4 dan 5 HIS Muhammadiyah Palembang. Namun, karena usaha ayahnya kurang lancar, mereka kembali berpindah ke Curup, daerah antara Lubuk Linggau dan Bengkulu. Di tengah tekanan ekonomi, mereka berdagang sayur untuk bertahan hidup. Fatmawati pun terpaksa menghentikan sekolahnya.

Meskipun demikian, Fatmawati tetap tabah. Ia tidak pernah mengeluh atas diskriminasi kolonial yang menimpa keluarganya. Ayahnya pernah diinterogasi oleh Belanda saat menjadi penyelenggara Kongres Besar Muhammadiyah. Dari pengalaman tersebut, semangat perlawanan mulai tumbuh dalam diri Fatmawati. Pada usia 15 tahun, ia memutuskan bergabung dengan perserikatan Muhammadiyah setelah melihat penderitaan masyarakat sekitar.

Pertemuan Takdir dengan Soekarno

Suatu hari, Fatmawati diajak ayahnya mengunjungi Soekarno yang sedang diasingkan ke Bengkulu dari Flores. Rasa senang luar biasa menyelimutinya karena akan bertemu dengan tokoh yang membuat penjajah kesulitan. Fatmawati berusaha tampil seanggun mungkin dengan mengenakan pakaian kurung merah hati.

Ramalannya pun terwujud. Fatmawati remaja dipinang oleh Soekarno, pria berdarah Jawa-Bali yang kelak menjadi proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Kehidupan Fatmawati tidak selalu mulus. Ia harus hidup berdampingan dengan suara peluru dan penderitaan akibat memperjuangkan kebenaran. Bahkan, setelah kemerdekaan datang, ia harus berpisah sementara dari suaminya demi mempertahankan prinsip hidupnya.

Fatmawati juga dikenal sebagai ibu dari Presiden Megawati. Perannya dalam menjahit bendera merah putih menjadi salah satu warisan berharga bagi bangsa Indonesia. Melalui ketabahan dan dedikasinya, ia membuktikan bahwa seorang perempuan bisa memberikan kontribusi besar bagi sejarah negara.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Biografi Fatmawati Penjahit Sang Saka Merah?

Biografi Fatmawati Penjahit Sang Saka Merah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Biografi Fatmawati Penjahit Sang Saka Merah matter?

Biografi Fatmawati Penjahit Sang Saka Merah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.