PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Demo di Dekat Bundaran HI, BEM UI: Kemerdekaan yang Ada saat Ini Semu!

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By Susan Hernandez - portalnara.com

Foto : Susan Hernandez - portalnara.com

BEM UI Turun ke Jalan: Kemerdekaan yang Dirayakan Dinilai Hanya Ilusi

Delapan Tuntutan dan Tema #MerebutKemerdekaan

Portalnara.com – Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, membenarkan rencana aksi yang mengusung tema #MerebutKemerdekaan. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung di kawasan Bundaran HI, Jakarta Selatan, pada Selasa (18/8/2026). Dalam keterangan tertulis yang disampaikan kepada IDN Times pada Senin (17/8/2026), Athof menegaskan bahwa langkah mahasiswa ke jalanan bukan bentuk perayaan, melainkan bentuk pertanyaan keras terhadap makna kemerdekaan.

"Sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?"

Sebanyak delapan poin tuntutan disiapkan untuk disuarakan dalam aksi tersebut. Dua di antaranya yang tercantum adalah penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri serta pemberantasan korupsi.

Konfrontasi dengan Aparat di Sekitar Bundaran HI

Di lapangan, situasi tidak berjalan mulus. Ratusan mahasiswa BEM UI yang hendak menggelar orasi di Bundaran HI diadang oleh aparat kepolisian di dekat Gedung Plaza UOB. Adu mulut pecah ketika mahasiswa bersikeras tetap menggelar aksi di titik tersebut, namun akses demo tidak diberikan oleh pihak kepolisian.

Dampak langsung dari peristiwa ini terasa di Jalan MH Thamrin. Jalur yang mengarah dari Dukuh Atas menuju Bundaran HI diblokade sementara, memaksa kendaraan yang melintas berhenti hingga akses kembali dibuka.

Kritik Keras terhadap Pemerintahan Prabowo–Gibran

Muhammad Hafizh Hernanda, Kepala Bidang Sosial Politik BEM UI, menyampaikan kritik tajam terhadap makna kemerdekaan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, kemerdekaan yang dinikmati saat ini bersifat semu karena masih banyak warga yang belum benar-benar merdeka. Ia menyoroti penanganan bencana di Aceh dan Nusa Tenggara Timur sebagai bukti nyata.

"Kami rasa saat ini kemerdekaan yang dibawa pemerintah itu kemerdekaan yang semu. Sejak kapan di negara yang katanya sudah merdeka ketika ada tukang cukur yang mempertanyakan kita sudah merdeka itu diintimidasi. Kita harus lihat kalau misalnya negara ini sudah merdeka, kenapa teman-teman kami di NTT seperti tidak dipedulikan? Kenapa saat bencana di Aceh pemerintah kita tetap keras kepala tidak mau minta bantuan?"

"Kami rasa kemerdekaan yang mereka bawa tidak ada maknanya dan kami sebagai rakyat sudah semestinya merebut kemerdekaan tersebut."

Pernyataan itu disampaikan Hafizh saat ditemui di sela-sela demo yang berlangsung di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).

9.242 Personel Dikerahkan untuk Amankan Aksi

Polda Metro Jaya mengerahkan ribuan personel gabungan guna mengamankan aksi unjuk rasa serta kegiatan masyarakat di kawasan Bundaran HI. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi, mengungkapkan bahwa total terdapat 31 aksi—termasuk aksi BEM UI—dan 16 kegiatan masyarakat yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

"Personel yang sudah dipersiapkan 9.242 personel untuk seluruh kegiatan penyampaian aspirasi di depan publik, begitu juga dengan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Ini terdiri dari Polda Metro Jaya 5.670 personel, Polres jajaran 222 personel, TNI 1.500 personel, dan BKO Mabes Polri 1.850 personel."

Apel pasukan digelar di Lapangan Presisi Polda Metro Jaya pada Selasa pagi. Apel dipimpin langsung oleh Karo Ops Polda Metro Jaya, Kombes Laode Aries El Fathar.

Arahan Pimpinan: Humanis, Terukur, dan Pelayanan

Dalam arahannya, Laode mengimbau seluruh anggota agar pengamanan berjalan aman, tertib, serta tidak menimbulkan kerusuhan maupun kerusakan fasilitas umum.

"Kita semua yang bertugas jangan mudah terpancing emosi, kendalikan diri, laksanakan tugas dengan humanis, sabar, dan terukur, serta menjadikan penegakan hukum adalah langkah terakhir, ultimum remedium."

Ia juga memerintahkan personel intelijen untuk mempelajari secara detail titik kumpul massa, fasilitas umum yang digunakan, serta kendaraan yang dibawa peserta. Seluruh narasi di jalanan—baik berupa teriakan maupun tulisan—harus didokumentasikan dan dilaporkan segera kepada pimpinan.

"Untuk personel Reskrim sebagai Satgas Gakkum, bila menemukan peserta yang membawa alat berbahaya agar segera diamankan dari awal dan dokumentasikan serta jangan bergerak sendiri-sendiri, tetapi harus berkelompok buddy system, jangan sampai terlepas dari ikatan tim."

Pasukan Samapta turut diinstruksikan untuk mengikuti setiap arahan pimpinan dan memastikan tindakan tetap terukur. Pemeriksaan kelengkapan alutsista dilakukan secara ketat dan didokumentasikan melalui video maupun foto.

"Pemeriksaan kelengkapan alut dan alsus anggota pada pelaksanaan apel pasukan agar dilakukan dengan ketat, didokumentasikan baik video maupun foto. Tetapi saran saya diperbanyak video. Silakan rekan-rekan Provos cek anggota, tidak ada yang membawa senjata api. Tetap SOP dalam menghadapi aksi unjuk rasa adalah sifatnya pelayanan, bukan menghadapi."

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Demo di Dekat Bundaran HI BEM UI?

Demo di Dekat Bundaran HI BEM UI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Demo di Dekat Bundaran HI BEM UI matter?

Demo di Dekat Bundaran HI BEM UI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.