PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Imigrasi Siapkan Pagar Digital untuk Awasi 3.111 Km Perbatasan RI

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Jennifer Johnson - portalnara.com

Foto : Jennifer Johnson - portalnara.com

Imigrasi Siapkan Pagar Digital untuk Awasi 3.111 Km Perbatasan RI

Portalnara.com – Direktorat Jenderal Imigrasi sedang dalam proses menyiapkan sebuah terobosan teknologi berupa pagar digital. Sistem ini dirancang khusus untuk memantau dan mengamankan seluruh garis perbatasan darat Indonesia yang membentang sepanjang 3.111 kilometer. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi drone, pengawasan wilayah perbatasan yang selama ini menjadi tantangan besar dapat dilakukan secara lebih efisien dan menyeluruh. Inovasi ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Ditjen Imigrasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengatasi berbagai jalur lintas batas yang sering digunakan dalam aktivitas penyelundupan.

Mengapa Pagar Fisik Tidak Memadai?

Memagari seluruh panjang perbatasan secara konvensional memang bukan solusi yang realistis. Direktur Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menyampaikan bahwa luasnya wilayah perbatasan membuat pendekatan fisik menjadi kurang efektif. Oleh karena itu, integrasi teknologi modern menjadi pilihan utama untuk memperkuat keamanan nasional.

"Nah, itu rentang batas daratnya 3.111 kilo kurang lebih. Mau kita pagerin gak mungkin," kata Hendarsam dalam media briefing di kantor Ditjen Imigrasi pada Rabu (12/8/2026).

Sistem yang sedang dikembangkan ini tidak hanya berfokus pada pengawasan visual, tetapi juga mencakup analisis data pergerakan. Teknologi ini dirancang untuk menangani berbagai jenis pelanggaran perbatasan, mulai dari penyelundupan manusia hingga barang-barang terlarang. Kedua komoditas tersebut sering kali dibawa secara bersamaan, sehingga memerlukan sistem deteksi yang komprehensif.

Drone Buatan Indonesia untuk Perbatasan

Salah satu keunggulan dari pengembangan teknologi ini adalah potensi produksi dalam negeri. Hendarsam menekankan bahwa drone untuk pengawasan perbatasan dapat dibuat oleh tenaga ahli Indonesia. ITB telah membuktikan kemampuannya dalam mengembangkan drone yang digunakan untuk berbagai sektor, termasuk pertanian dan perkebunan, bahkan dengan dukungan energi surya.

"Kenapa kita selalu apa namanya penginnya mindset-nya itu ke produk-produk luar terus gitu loh? Drone ini menurut kami itu bukan sesuatu hal yang, yang sulit untuk dibuat gitu loh," ujarnya.

Pengembangan drone ini juga sejalan dengan visi kemandirian teknologi nasional. Dengan kemampuan produksi lokal, biaya operasional dan pemeliharaan sistem dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, teknologi ini dapat disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia yang beragam.

Integrasi Canggih dengan Command Center

Pagar digital yang sedang disiapkan akan dilengkapi dengan teknologi pengenalan wajah atau face recognition. Sistem ini akan terhubung secara real-time dengan command center untuk memproses data pergerakan individu di titik-titik strategis. Setiap orang yang melintasi wilayah perbatasan akan tercatat dalam bank data nasional.

"Paling tidak setidaknya setiap orang yang lewat keluar-masuk wilayah di tempat-tempat tertentu itu masuk ke bank data kita, masuk ke command center kita, siapa yang melintas hari itu, pergerakannya ada anomali atau tidak, itu kita lakukan," kata Hendarsam.

Kolaborasi antara Direktorat Jenderal Imigrasi dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB ini merupakan langkah strategis menghadapi tantangan pengawasan perbatasan darat. Wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini menjadi prioritas utama pengembangan sistem ini.

Wilayah Prioritas Pengembangan

Prioritas pengembangan pagar digital akan difokuskan pada beberapa wilayah strategis. Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, serta Batam menjadi lokasi utama implementasi sistem ini. Pemilihan wilayah-wilayah tersebut didasarkan pada tingkat aktivitas lintas batas dan kerentanan terhadap berbagai jenis pelanggaran.

Dengan implementasi penuh, sistem ini diharapkan dapat memberikan perlindungan optimal terhadap seluruh garis perbatasan darat Indonesia. Teknologi ini juga akan memudahkan koordinasi antar instansi terkait dalam menangani berbagai kasus perbatasan secara lebih cepat dan akurat.

Frequently Asked Questions

Berapa panjang total perbatasan darat Indonesia?

Perbatasan darat Indonesia memiliki panjang mencapai 3.111 kilometer yang membentang di beberapa wilayah termasuk Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Siapa mitra pengembangan teknologi pagar digital?

Mitra utama pengembangan teknologi ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD).

Apa saja fitur utama dari sistem pagar digital?

Sistem ini dilengkapi dengan teknologi drone, pengenalan wajah (face recognition), dan terhubung langsung dengan command center untuk pencatatan dan analisis data pergerakan.

Kapan sistem ini akan diimplementasikan?

Saat ini sistem masih dalam tahap pengembangan bersama ITB dengan target implementasi bertahap di wilayah-wilayah prioritas.

Related Reading