PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Qatar Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Penting bagi AS-Iran Berdamai

Published Agustus 23, 2026 · Updated Agustus 23, 2026 · By William Garcia - portalnara.com

Foto : William Garcia - portalnara.com

Qatar Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Jadi Kunci Perdamaian AS–Iran

Portalnara.com – Doha kembali menegaskan posisinya sebagai mediator utama dalam kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran. Dalam konferensi pers yang digelar Selasa (18/8/2026), Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa Qatar sebut kesepakatan Selat Hormuz merupakan fondasi yang tidak bisa diabaikan sebelum jalur negosiasi damai dibuka ulang. Tanpa penyelesaian status hukum perairan tersebut, setiap upaya rekonsiliasi antara kedua negara akan tetap macet.

Mediasi Doha dan Tuntutan Finalisasi Perjanjian

Majed Al-Ansari, juru bicara Kemlu Qatar, menjelaskan bahwa langkah pertama yang akan ditempuh Doha adalah menunggu rampungnya dokumen bersama antara Teheran dan Muscat. Ia menekankan bahwa finalisasi perjanjian itu akan menjadi pemicu bagi Qatar untuk kembali menekan Amerika Serikat agar mematuhi ketentuan yang telah disepakati Iran dan Oman.

"Kesepakatan mengenai Selat Hormuz akan mempermudah kita untuk melanjutkan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran," ujar Al-Ansari di hadapan para jurnalis. Ia menambahkan bahwa Doha juga menunggu hasil finalisasi antara Kesultanan Oman dan Iran sebelum mengaktifkan kembali kerangka negosiasi trilateral.

Al-Ansari menegaskan bahwa Qatar tidak akan mengambil langkah sepihak. Peran Doha, menurutnya, adalah memastikan kedua belah pihak menurunkan ego dan kembali ke meja perundingan. Ia menyebut bahwa ketegangan saat ini berakar pada klaim unilateral yang bertentangan dengan hukum laut internasional, di mana Selat Hormuz berstatus perairan bebas dan tidak dapat diklaim oleh negara mana pun.

Perjanjian Iran–Oman: Hampir Rampung, Belum Berlaku

Sebagai latar belakang, Teheran dan Muscat pada dasarnya telah menyepakati rute pelayaran baru di Selat Hormuz pada Sabtu (15/8/2026). Perjanjian itu merupakan buah dari tiga bulan perundingan yang dimulai sejak 18 Juni dan bertujuan menjamin kebebasan serta keamanan navigasi di kawasan tersebut. Namun, sejumlah isu strategis masih tersisa sehingga dokumen belum mencapai tahap finalisasi dan belum dapat diimplementasikan di lapangan.

Ismaeil Baghaei, juru bicara Kemlu Iran, menyatakan bahwa finalisasi akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Ia tidak merinci isu-isu yang masih menggantung, tetapi menegaskan bahwa kedua pihak berkomitmen menyelesaikan sisa negosiasi tanpa memperpanjang kebuntuan.

Peta Trump dan Enam Syarat Teheran

Ketegangan memuncak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerbitkan peta yang menggambarkan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah teritorial AS. Publikasi itu menyusul pernyataan sebelumnya bahwa ia akan mendeklarasikan selat tersebut sebagai milik Amerika. Langkah tersebut memicu reaksi keras di Teheran dan memperdalam jurang diplomatik.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf merespons dengan pernyataan pada Selasa bahwa Iran akan tetap menutup Selat Hormuz hingga Washington mematuhi seluruh syarat yang telah ditetapkan. Sebelumnya, pada 8 Agustus, Teheran telah menyampaikan enam ketentuan yang harus dipenuhi Amerika Serikat apabila ingin selat itu kembali dibuka untuk pelayaran internasional.

FAQ: Qatar Sebut Kesepakatan Selat Hormuz

Apakah Qatar memiliki kewenangan untuk memaksa AS dan Iran berdamai? Qatar tidak memiliki kewenangan koersif. Peran Doha adalah mediasi dan tekanan diplomatik. Qatar sebut kesepakatan Selat Hormuz penting karena tanpa penyelesaian status perairan tersebut, tidak ada dasar hukum bagi negosiasi damai lanjutan.

Kapan perjanjian Iran–Oman akan berlaku efektif? Menurut pernyataan Ismaeil Baghaei, finalisasi akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, hingga dokumen ditandatangani secara penuh, ketentuan rute pelayaran baru belum dapat diimplementasikan.

Apa dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perdagangan global? Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan parsial atau penuh akan berdampak langsung pada harga energi, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi kawasan serta global.

Related Reading