PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rekor! Satwa Langka Elang Jawa Garuda di TSI Sukses Rawat Anak Secara Alami

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Lisa Rodriguez - portalnara.com

Foto : Lisa Rodriguez - portalnara.com

Rekor Satwa Langka Elang Jawa: Keberhasilan Pengasuhan Alami di Taman Safari Indonesia

Portalnara.com – Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor kembali mencatatkan sejarah dalam dunia konservasi satwa langka. Pencapaian luar biasa ini diraih tepat pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Elang Jawa, burung endemik Indonesia yang juga dikenal sebagai Garuda, berhasil menjadi yang pertama kali merawat dan mengasuh anaknya secara mandiri tanpa bantuan manusia. Rekor Satwa Langka Elang Jawa ini menjadi kebanggaan nasional bagi lembaga konservasi ex-situ di Indonesia.

Anakan Elang Jawa hasil pasangan Hanum dan Riska menetas pada 16 Juni 2026. Pengumuman keberhasilan pengasuhan alami ini disampaikan pada Agustus 2026 sebagai hadiah istimewa bagi bangsa. Keberhasilan ini sangat berarti mengingat Elang Jawa merupakan satwa endemik Indonesia yang menginspirasi lambang negara, Garuda Pancasila. Proses pengasuhan alami ini menandai era baru dalam upaya pelestarian spesies langka.

Sejarah Pengasuhan Induk Pertama dalam Sejarah Konservasi

Iman Purwadi, Senior Kurator Satwa Taman Safari Bogor, menjelaskan bahwa dari sembilan kali keberhasilan reproduksi pasangan Hanum dan Riska, ini merupakan momen pertama sang induk mampu menyuapi dan merawat anaknya hingga dewasa. Sebelumnya, delapan anakan harus dirawat secara manual oleh perawat satwa dan dokter hewan demi keselamatan bayi. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu yang tidak sedikit.

Di hari 17 Agustus ini, kado yang luar biasa untuk Taman Safari Indonesia di mana ini pertama kali lembaga konservasi ex-situ induk bisa merawat anaknya dengan baik sampai umur dewasa. Kita akan tularkan juga ke lembaga konservasi lain.

Menurut Iman, keberhasilan pengasuhan alami ini menjadi catatan bersejarah bagi TSI Bogor. Seluruh anakan sebelumnya harus dipisahkan dari induk agar selamat karena sang induk belum mampu memberikan makan sendiri. Pengasuhan alami oleh induk betina dan jantan ini terbilang sangat langka untuk penangkaran di luar habitat asli (ex-situ). Proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang luar biasa.

Jadi memang sulit sekali untuk mendapatkan anakan ini, bagaimana si induk itu bisa mau menyuapi anaknya. Itu yang luar biasa. Jadi kita pantau menit demi menit, jam demi jam untuk memastikan bahwa induk itu mampu untuk memberikan makan.

Proses Panjang Menuju Keberhasilan Pengasuhan Alami

Iman menjelaskan bahwa proses membawa induk Elang Jawa agar memiliki naluri mengasuh anak tidak terjadi secara instan. Tim kurator dan keeper Taman Safari Bogor harus menguji coba sistem pendampingan khusus selama bertahun-tahun untuk membentuk perilaku pengasuhan alami. Setiap langkah dilakukan dengan penuh perhitungan dan observasi ketat.

Spesies ini tergolong sangat sensitif dengan produktivitas yang terbatas. Elang Jawa hanya bertelur satu butir dalam setahun dengan masa pengeraman antara 49 hingga 51 hari. Kondisi ini membuat setiap keberhasilan reproduksi menjadi sangat berharga bagi upaya pelestarian spesies. Rekor Satwa Langka Elang Jawa ini membuktikan bahwa metode konservasi modern dapat berhasil.

Jadi memang ada bantuan dari keeper kami, ada sistem, ada teknik yang kita temukan melalui bertahun-tahun itu kita uji coba terhadap indukan dan teknik ini berhasil. Mungkin nanti akan kita ajarkan juga terhadap lembaga-lembaga konservasi yang lain.

Nama Garuda untuk Anakan Ke-9 dalam Sejarah Konservasi

Jansen Manansang, pendiri Taman Safari Indonesia Group, menegaskan bahwa pencapaian ilmiah ini merupakan langkah nyata untuk mendukung keberlanjutan populasi Elang Jawa. Pengasuhan alami tanpa sentuhan langsung tangan manusia menjaga sifat liar anakan agar siap menjalani program pelepasliaran ke alam bebas di masa depan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan spesies.

Sebagai kado istimewa peringatan kemerdekaan, anakan Elang Jawa ke-9 dari pasangan Hanum dan Riska secara resmi diberi nama Garuda. Nama ini dipilih untuk mencerminkan semangat kebangsaan dan harapan baru bagi konservasi satwa langka Indonesia.

Sejak dia lahir, kita sudah rencanakan pada bulan Agustus ini kita akan mendeklarasikan bahwa ini keberhasilan sesuai dengan tema kemerdekaan kita. Kita bisa lihat dengan video jantan betina untuk merawat anak, ini adil sekali sehingga menimbulkan bahagianya. Hari ini kita berikan nama setujunya Garuda.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Rekor Satwa Langka Elang Jawa

Apa itu Elang Jawa? Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah burung endemik Indonesia yang menjadi simbol kebanggaan nasional. Burung ini juga dikenal sebagai Garuda dan menjadi inspirasi lambang negara, Garuda Pancasila.

Berapa kali pasangan Hanum dan Riska berhasil bereproduksi? Pasangan Hanum dan Riska telah berhasil bereproduksi sebanyak sembilan kali. Namun, kali ini merupakan pertama kalinya mereka berhasil mengasuh anaknya secara alami tanpa bantuan manusia.

Kapan anakan Elang Jawa menetas? Anakan Elang Jawa menetas pada 16 Juni 2026. Pengumuman keberhasilan pengasuhan alami disampaikan pada Agustus 2026 sebagai kado peringatan kemerdekaan.

Mengapa pengasuhan alami penting untuk Elang Jawa? Pengasuhan alami penting karena menjaga sifat liar anakan agar siap menjalani program pelepasliaran ke alam bebas di masa depan. Ini juga menandakan keberhasilan metode konservasi modern.

Apakah metode ini akan diterapkan di tempat lain? Ya, TSI Bogor berencana untuk menularkan metode pengasuhan alami ini ke lembaga konservasi lain di Indonesia untuk mendukung upaya pelestarian Elang Jawa secara lebih luas.

Related Reading