PortalNara
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

7 Tokoh Belanda Penjajah Indonesia Terkejam, Populer di Buku Sejarah

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Susan Hernandez - portalnara.com

Foto : Susan Hernandez - portalnara.com

Mengenal Para Penguasa Belanda yang Menjadikan Indonesia sebagai Koloni Terkejam

Portalnara.com – Masa penjajahan Belanda yang berlangsung selama tiga abad meninggalkan jejak kekejaman yang tak terlupakan. Banyak tokoh Belanda yang namanya tercatat dalam buku-buku sejarah Indonesia sebagai pemimpin dengan tangan berlumuran darah rakyat pribumi. Mereka tidak hanya memimpin dengan keras, tetapi juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang merugikan dan menelan ribuan nyawa.

Berikut adalah rangkuman tokoh-tokoh Belanda yang paling dikenal karena kekejaman dan pengaruhnya terhadap nasib bangsa Indonesia.

Pieter Both: Pelopor Eksploitasi Rempah-rempah

Pieter Both menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pertama pada periode 1610 hingga 1614. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia telah berkontribusi dalam pembentukan VOC pada tahun 1602. Selama masa jabatannya, ia berhasil mendirikan pos perdagangan di Banten dan mengusir kekuatan Spanyol dari Tidore.

Pencapaian terbesar Pieter Both adalah membuat perjanjian dengan para penguasa Maluku untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Namun, keberhasilan ini justru membawa penderitaan bagi rakyat. Tenaga dan keringat mereka diperas habis-habisan untuk bercocok tanam, sementara seluruh hasil pertanian direbut oleh Pieter Both demi kepentingan pemerintah Hindia Belanda.

J.P. Coen: Master Politik Adu Domba

Jan Pieterszoon Coen atau yang lebih dikenal sebagai J.P. Coen menjabat sebagai gubernur jenderal VOC keempat antara tahun 1619-1623. Kesuksesannya dalam membawa keuntungan bagi VOC dan pemerintah Hindia Belanda membuatnya dilantik kembali pada periode 1627-1629.

Salah satu keputusan paling berpengaruh dari J.P. Coen adalah memindahkan markas VOC dari Banten ke Jayakarta, yang kemudian diubah namanya menjadi Batavia. Pemindahan ini memungkinkan organisasi dagang tersebut untuk memperluas sayapnya ke seluruh wilayah Nusantara.

Kepemimpinan J.P. Coen dicirikan oleh politik adu domba atau devide et impera. Ia sering kali mendekati para pemimpin kerajaan lokal dan menghasut mereka agar saling berperang, sehingga akhirnya berbalik mendukung VOC.

Herman Willem Daendels: Sang Pembangun Jalan dengan Darah

Herman Willem Daendels, yang akrab disapa Daendels, menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda dari tahun 1808 hingga 1811. Meskipun masa kepemimpinannya relatif singkat, kekejamannya tak tertandingi oleh para pendahulunya.

Daendels adalah tokoh yang mempraktikkan kebijakan kerja rodi untuk membangun Jalan Raya Pos dari Anyer di Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur. Proyek ambisius ini bertujuan untuk melancarkan pengangkutan komoditas pertanian sekaligus memperkuat pertahanan militer terhadap ancaman Sekutu.

Dengan kecepatan luar biasa, jalan sepanjang 1.084 kilometer tersebut selesai dibangun hanya dalam waktu satu tahun. Namun, proyek Anyer-Panarukan ini sering disebut sebagai gerakan genosida karena menelan ribuan korban jiwa.

Godert van der Capellen: Pemimpin yang Terlalu Lembut

Setelah kekuasaan Belanda direbut oleh Inggris selama lima tahun, Belanda kembali menjajah Indonesia. Godert van der Capellen ditunjuk sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda pada periode 1816-1826 dengan tugas besar memperbaiki situasi ekonomi Belanda dan memperkuat pengaruhnya di Nusantara.

Berbeda dengan para pendahulunya, Van der Capellen berusaha merebut hati rakyat Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang pro pribumi. Ia mengurangi monopoli perdagangan rempah-rempah, membangun sekolah dasar, dan melakukan imunisasi cacar bagi masyarakat.

Pemerintahan Van der Capellen dinilai tidak sekejam tokoh-tokoh Belanda lainnya. Namun, pemerintah pusat di Belanda tidak menyukai pendekatan yang dianggap terlalu lemah tersebut. Akibatnya, ia segera dipulangkan dan digantikan oleh Hendrik Merkus de Kock.

Johannes van den Bosch: Pencipta Tanam Paksa

Johannes van den Bosch menjadi sosok yang paling dikenal karena kebijakan culturstelsel atau tanam paksa yang diberlakukan selama masa jabatannya dari tahun 1830 hingga 1834.

Kebijakan ini dirancang untuk mengisi kekosongan kas Belanda akibat Perang Diponegoro yang berlangsung dari 1825 hingga 1830. Pada saat yang sama, Belanda juga menghadapi Perang Kemerdekaan Belgia di negara induknya, sehingga membutuhkan banyak rempah-rempah dan hasil bumi untuk dijual.

Melalui sistem tanam paksa, rakyat Indonesia dipaksa menanam komoditas ekspor yang menguntungkan Belanda. Kebijakan ini menjadi salah satu yang paling kontroversial dan menyakitkan dalam sejarah kolonialisme Indonesia.

Kesimpulan

Ketujuh tokoh Belanda ini meninggalkan warisan kekejaman yang tak terlupakan dalam ingatan rakyat Indonesia. Dari Pieter Both yang memulai eksploitasi rempah-rempah, hingga Johannes van den Bosch dengan tanam paksa, setiap pemimpin membawa cara tersendiri dalam menindas bangsa Indonesia. Nama-nama mereka tetap abadi dalam buku-buku sejarah sebagai simbol penjajahan yang kejam.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is 7 Tokoh Belanda Penjajah Indonesia Terkejam?

7 Tokoh Belanda Penjajah Indonesia Terkejam is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 7 Tokoh Belanda Penjajah Indonesia Terkejam matter?

7 Tokoh Belanda Penjajah Indonesia Terkejam matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.