Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Science

Visit Agenda: Kenapa Tiap Kemarau Muncul Embun Upas di Dieng? Ini Kata BMKG

William Garcia - portalnara.com 3 mins read

Visit Agenda: Mengapa Tiap Musim Kemarau Embun Upas Muncul di Dieng? BMKG Jelaskan Penyebabnya Visit Agenda - Dataran Tinggi Dieng, sebuah lokasi wisata alam

Visit Agenda: Kenapa Tiap Kemarau Muncul Embun Upas di Dieng? Ini Kata BMKG

Visit Agenda: Mengapa Tiap Musim Kemarau Embun Upas Muncul di Dieng? BMKG Jelaskan Penyebabnya

Visit Agenda – Dataran Tinggi Dieng, sebuah lokasi wisata alam yang terkenal karena keindahannya, menjadi tempat yang tak pernah lelah menghadirkan kejutan dari fenomena alam. Salah satu kejutan tersebut adalah munculnya embun upas, atau embun beku, yang terjadi tiap musim kemarau. Fenomena ini menarik perhatian para pengunjung yang ingin mengeksplorasi alam di sekitar Dieng dalam rangkaian Visit Agenda mereka. BMKG menjelaskan bahwa suhu udara di kawasan tersebut turun hingga di bawah nol derajat Celsius, yang memicu pembentukan kristal es di permukaan tanaman dan tanah.

Embun upas di Dieng bukan hanya menjadi bagian dari alam yang menakjubkan, tetapi juga bisa menjadi momen yang sangat spesial untuk Visit Agenda para wisatawan. Fenomena ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor, termasuk kondisi geografis khusus dan perubahan pola cuaca. Dataran tinggi yang terletak di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut membuat suhu lebih dingin dibanding daerah lain. Selain itu, angin muson timur yang membawa udara kering selama musim kemarau mempercepat proses pendinginan udara, sehingga memungkinkan embun beku terbentuk di pagi hari.

Penyebab Fenomena Embun Upas di Dieng

Fenomena embun upas di Dieng dipengaruhi oleh tiga elemen utama: suhu ekstrem, kelembapan tinggi, dan kondisi cuaca yang stabil. Suhu di bawah nol derajat Celsius, yang mencapai -1,2°C pada 9 Juli 2026, membuat air dalam udara membeku saat menyentuh permukaan tanah atau tanaman. BMKG mengungkapkan bahwa faktor geografis seperti cekungan pegunungan dan posisi yang terpencil dari pengaruh cuaca lembap memperkuat fenomena ini. Wilayah Dieng juga memiliki kemiringan lereng yang memungkinkan udara dingin terperangkap lebih lama, sehingga memperpanjang durasi embun upas.

“Secara meteorologis, fenomena ini disebut frost atau embun beku, yang terjadi ketika kelembapan udara membeku di permukaan benda-benda di sekitar kita,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo. Embun upas tidak hanya terjadi di Dieng, tetapi juga di daerah dataran tinggi lain seperti Gunung Bromo atau Cipanas, asalkan memenuhi syarat suhu rendah dan kelembapan tinggi.

Pola musim kemarau di Jawa Tengah menciptakan lingkungan yang ideal untuk fenomena ini. Angin muson timur dari Australia membawa udara kering, sehingga langit menjadi lebih cerah dan minim awan. Hal ini menyebabkan panas matahari cepat hilang pada malam hari, menciptakan suhu yang drastis turun. Kelembapan udara yang tinggi selama malam hari menjadi substrat untuk pembekuan, sehingga embun upas muncul sebagai bagian dari Visit Agenda wisatawan yang ingin mengalami keajaiban alam tersebut.

Perbedaan Embun Upas dan Fenomena Cuaca Lainnya

Embun upas di Dieng memiliki karakteristik yang berbeda dari embun biasa atau hujan es. Sementara embun biasa terjadi saat suhu udara di sekitar 5°C dan kelembapan tinggi, embun upas membutuhkan kondisi suhu yang jauh lebih dingin, yaitu di bawah nol derajat Celsius. Fenomena ini juga hanya terjadi di daerah dengan ketinggian tertentu, karena tempat yang lebih rendah cenderung memiliki suhu lebih stabil. BMKG menyebutkan bahwa kejadian embun upas di Dieng adalah bagian dari proses alam yang terjadi secara musiman, bukan kejadian yang acak.

“Embun upas adalah indikasi bahwa suhu udara sangat rendah, sehingga air dalam bentuk uap langsung membeku di permukaan tanah atau tanaman,” tambah Fajar Ridzki Abdullah, prakirawan BMKG. Dengan adanya fenomena ini, Visit Agenda wisatawan bisa dimanfaatkan sebagai bahan promosi pariwisata alam.

Dieng, khususnya desa-desa seperti Dieng Kulon dan Dieng Tengah, sering menjadi lokasi utama pengamatan embun upas. Fenomena ini biasanya muncul di pagi hari, sebelum matahari memanaskan udara kembali. Para pengunjung yang mengikuti Visit Agenda bisa mengatur waktu kunjungan mereka agar tidak melewatkan kejadian alam ini. BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca bisa berubah drastis, sehingga penting untuk memantau prakiraan cuaca sebelum berkunjung.

Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini terjadi karena interaksi antara suhu, kelembapan, dan aliran udara. Selama musim kemarau, keringnya udara di daerah dataran tinggi seperti Dieng mempercepat proses pendinginan. BMKG juga mencatat bahwa intensitas fenomena bisa bervariasi dari tahun ke tahun, tergantung pada kekuatan angin muson timur dan perubahan iklim global. Fajar Ridzki Abdullah menambahkan bahwa pengamatan terhadap fenomena ini bisa menjadi bahan riset terkait iklim dan lingkungan.

Leave a reply