Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Science

BRIN Temukan Cap Tangan 67.800 Tahun di Pulau Muna

Susan Hernandez - portalnara.com 3 mins read

Sebuah penemuan arkeologi yang mengguncang dunia telah diumumkan oleh tim peneliti Indonesia dan Australia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama

BRIN Temukan Cap Tangan 67.800 Tahun di Pulau Muna

BRIN Temukan Cap Tangan 67 800 Tahun di Pulau Muna: Penemuan Bersejarah

Portalnara.com – Sebuah penemuan arkeologi yang mengguncang dunia telah diumumkan oleh tim peneliti Indonesia dan Australia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University berhasil mengidentifikasi cap tangan manusia purba yang berusia 67.800 tahun di dalam gua Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Penemuan ini merupakan salah satu karya seni cadas tertua yang pernah ditemukan di seluruh dunia dan memberikan bukti kuat tentang keberadaan manusia modern di kawasan Wallacea sejak puluhan ribu tahun lalu.

Cap tangan purba yang ditemukan ini memiliki signifikansi luar biasa dalam memahami sejarah migrasi manusia modern. Dengan usia yang jauh melampaui seni cadas Maros-Pangkep, temuan di Pulau Muna ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat utama perkembangan seni simbolik manusia. Lebih dari itu, cap tangan ini membuktikan bahwa nenek moyang kita sudah melakukan penyeberangan laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun yang lalu, jauh sebelum dugaan sebelumnya.

Proses Penanggalan dan Validasi Usia

Adhi Agus Oktaviana, peneliti senior dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, menjelaskan bahwa usia minimum seni cadas di Pulau Muna ini melampaui seni cadas Maros-Pangkep yang sebelumnya ditemukan sebanyak 16.600 tahun. Selain itu, cap tangan ini juga lebih tua 1.100 tahun dibandingkan dengan cap tangan dari Spanyol yang selama ini dikaitkan dengan manusia Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

Untuk menentukan usia yang akurat, tim peneliti menggunakan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series). Teknik canggih ini diterapkan pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan di dalam gua. Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, sehingga memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna.

Wallacea sebagai Ruang Hidup Utama Manusia Modern

Temuan ini menegaskan bahwa Wallacea bukan sekadar jalur transit menuju Australia, melainkan merupakan ruang hidup utama bagi manusia modern awal. Adhi Agus Oktaviana menyatakan:

“Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,”

Pernyataan ini juga memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu. Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada periode tersebut, jauh sebelum dugaan sebelumnya.

Ciri Khas dan Implikasi untuk Masa Depan

Cap tangan yang ditemukan di Pulau Muna memiliki ciri khas yang unik secara global. Modifikasi pada cap tangan tersebut mempersempit bentuk jari sehingga menyerupai cakar atau narrow finger. Hal ini mencerminkan ekspresi simbolik yang sudah matang pada masa itu. Meskipun makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat.

Konsep hubungan manusia-hewan sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang ditafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan. Penemuan seni cadas di Sulawesi Tenggara menandai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia.

Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan. Maka dari itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. BRIN Temukan Cap Tangan 67 800 Tahun ini bukan hanya pencapaian ilmiah, tetapi juga warisan berharga bagi generasi mendatang.

Leave a reply