Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Health

Studi: Mikroplastik Ditemukan pada 84 Persen Pasien Serangan Jantung

Linda Miller - portalnara.com 3 mins read

Studi - Penelitian terkini mengungkapkan temuan menarik mengenai keberadaan partikel plastik dalam tubuh manusia. Dalam kajian yang dipublikasikan di jurnal

Studi: Mikroplastik Ditemukan pada 84 Persen Pasien Serangan Jantung

Partikel Mikroplastik Terdeteksi Mayoritas pada Penderita Serangan Jantung

Portalnara.com – Studi – Penelitian terkini mengungkapkan temuan menarik mengenai keberadaan partikel plastik dalam tubuh manusia. Dalam kajian yang dipublikasikan di jurnal European Heart Journal pada bulan Juli 2026, para ilmuwan menemukan mikroplastik serta nanoplastik pada sebagian besar penderita serangan jantung tipe STEMI.

Mikroplastik dan nanoplastik terdeteksi pada 84,2 persen pasien serangan jantung STEMI dalam studi kecil yang melibatkan 61 orang.

Metodologi dan Kelompok Pasien

Kajian ini melibatkan total 61 partisipan yang menjalani prosedur angiografi koroner untuk memeriksa kondisi pembuluh darah jantung. Peserta penelitian kemudian dikelompokkan berdasarkan diagnosis medis mereka.

Kelompok pertama terdiri dari 19 individu yang mengalami serangan jantung berat atau STEMI, kondisi yang umumnya disebabkan oleh penyumbatan mendadak pada arteri koroner. Selanjutnya, terdapat 20 pasien dengan penyakit jantung koroner kronis. Sementara itu, 22 peserta lainnya menunjukkan kondisi arteri koroner yang normal tanpa penyumbatan signifikan.

Temuan Partikel Plastik dalam Darah

Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien STEMI memiliki konsentrasi partikel plastik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Selain itu, variasi jenis polimer yang ditemukan juga lebih beragam pada kelompok ini.

Plastik yang paling sering terdeteksi adalah polietilena, material yang umum digunakan untuk kemasan, kantong plastik, botol, dan berbagai produk konsumen sehari-hari. Konsentrasi tertinggi partikel plastik tercatat dalam darah arteri koroner di area sekitar lokasi penyumbatan.

Para peneliti telah melakukan verifikasi untuk memastikan bahwa partikel tersebut tidak berasal dari instrumen medis yang digunakan selama prosedur angiografi. Namun, sumber spesifik dari produk atau lingkungan tempat partikel tersebut berasal belum dapat ditentukan secara pasti.

Kaitan dengan Peradangan dan Faktor Lingkungan

Pasien serangan jantung dalam penelitian ini juga menunjukkan kadar penanda peradangan yang lebih tinggi, khususnya interleukin-6 dan tumour necrosis factor-alpha. Pada sampel darah arteri koroner, kedua penanda tersebut lebih tinggi pada pasien yang memiliki mikroplastik dibandingkan pasien tanpa deteksi partikel plastik.

Paparan polusi udara halus atau PM2.5 juga lebih tinggi pada kelompok STEMI, baik pada hari tindakan maupun rata-rata selama dua tahun sebelumnya. Mikroplastik lebih sering ditemukan pada orang yang merokok dan mereka yang tinggal di wilayah dengan paparan PM2.5 lebih tinggi.

Setelah para peneliti mempertimbangkan berbagai faktor, riwayat merokok menjadi satu-satunya faktor yang secara independen berkaitan dengan keberadaan mikroplastik. Peneliti menduga partikel dapat terhirup melalui udara dan asap rokok, kemudian menembus paru-paru sebelum memasuki aliran darah. Namun, jalur ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.

Implikasi dan Keterbatasan Studi

Temuan ini melanjutkan penelitian tahun 2024 dalam New England Journal of Medicine. Studi tersebut menemukan mikroplastik dan nanoplastik dalam plak arteri karotis. Pasien yang plaknya mengandung partikel plastik mengalami risiko gabungan serangan jantung, stroke, atau kematian yang lebih tinggi selama masa pemantauan sekitar tiga tahun.

Meski dua penelitian ini menambah kekhawatiran, tetapi keduanya tetap tidak dapat memastikan bahwa mikroplastiklah yang menyebabkan penyakit. Ada kemungkinan partikel plastik menjadi penanda dari paparan lingkungan lain atau lebih mudah menumpuk pada tubuh yang sudah mengalami peradangan dan kerusakan pembuluh darah.

Walaupun angka 84 persen terdengar mengkhawatirkan, tetapi perlu dilihat bersama keterbatasan penelitiannya. Studi ini hanya melibatkan 61 orang dan hanya 19 di antaranya mengalami STEMI. Desainnya juga bersifat potong lintang (darah diambil pada satu waktu tertentu). Studi ini belum membuktikan bahwa mikroplastik menyebabkan serangan jantung sehingga hasilnya tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat.

Secara biologis, temuan ini dapat diteliti lebih lanjut. Percobaan pada sel dan hewan menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil mungkin memicu stres oksidatif, peradangan, gangguan lapisan dalam pembuluh darah, dan perubahan pada pembentukan plak. Namun, mekanisme tersebut belum otomatis membuktikan efek yang sama pada manusia.

Saat ini, belum ada tes maupun metode “detoks” khusus untuk mikroplastik. Fokus utama dokter tetap pada membuka arteri yang tersumbat agar aliran darah kembali mencapai otot jantung. Namun, pemeriksaan partikel plastik yang tidak terlihat oleh mata ini membuka peluang baru dalam memahami faktor risiko kardiovaskular.

Leave a reply