Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Health

Sepertiga Remaja Indonesia Punya Gangguan Mental, Tertinggi Anxiety

Linda Miller - portalnara.com 3 mins read

Sepertiga Remaja Indonesia Punya Gangguan Mental menjadi fakta yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. dr. Angga Wirahmadi, Sp.A

Sepertiga Remaja Indonesia Punya Gangguan Mental, Tertinggi Anxiety

Investasi Kesehatan Remaja: Mengapa Satu dari Tiga Remaja Indonesia Mengalami Gangguan Mental?

Portalnara.com – Sepertiga Remaja Indonesia Punya Gangguan Mental menjadi fakta yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) dari Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan hal ini dalam acara ‘Mengenali Gangguan Mental Pada Anak’ yang berlangsung pada Selasa (21/07/2026). Ia menekankan bahwa generasi muda adalah masa depan bangsa yang memerlukan dukungan optimal.

“Di masa depan remaja akan menjadi pemimpin kita, akan menjadi orang tua, akan menjadi guru, akan menjadi presiden, anggota DPR, dan yang lain-lain. Jadi investasi pada kesehatan remaja itu hal yang sangat penting,” ujarnya dengan tegas.

Demografi Remaja Indonesia dan Asia

Asia menduduki posisi sebagai benua dengan jumlah penduduk remaja terbanyak di seluruh dunia, mencapai 57,1 persen. Khususnya di Indonesia, data tahun 2021 mencatat adanya 46 juta remaja dengan perbandingan laki-laki dan perempuan yang hampir seimbang. Enam provinsi dengan jumlah remaja tertinggi tersebar di Jawa, Sumatra Utara, Banten, serta Jakarta.

Meskipun sering dianggap sebagai kelompok yang sehat dan bugar, remaja sebenarnya menyimpan berbagai kerentanan. Faktor risiko yang mereka hadapi saat ini akan terbawa hingga masa dewasa. Misalnya, kebiasaan makan tidak sehat, merokok, atau mengonsumsi alkohol sejak usia remaja cenderung menjadi pola hidup yang berkelanjutan. Demikian pula, kecenderungan menghabiskan waktu di media sosial dapat mengurangi aktivitas fisik dan menjadi kebiasaan permanen.

Realita Gangguan Mental di Kalangan Remaja

Secara global, satu dari tujuh remaja mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia, angka ini cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), dari 46 juta remaja, sebanyak 15,5 juta atau setara sepertiganya memiliki gangguan kesehatan mental. Fakta ini menunjukkan bahwa Sepertiga Remaja Indonesia Punya Gangguan Mental merupakan kondisi yang perlu ditangani secara komprehensif.

dr. Angga menjelaskan bahwa setelah evaluasi medis, ditemukan bahwa 5,5 persen atau satu dari dua puluh remaja memiliki diagnosis gangguan mental. Kondisi tersebut meliputi kecemasan, depresi, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD), serta hiperaktif. Gangguan paling sering dijumpai adalah depresi, anxiety atau kecemasan, dan gangguan perilaku.

“Bunuh diri merupakan penyebab nomor tiga tertinggi dari kematian populasi usia muda. Jadi, hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk kita perhatikan, karena kita berperan untuk mengatasi gangguan mental itu,” jelas dr. Angga.

Faktor Penyebab dan Tanda-Tanda Gangguan Mental

Remaja menghadapi masa transisi yang penuh kebingungan. Perubahan fisik akibat pubertas serta pengaruh hormonal menjadi pemicu berbagai permasalahan. Selain itu, mereka juga menghadapi tantangan sosial seperti kecanduan gadget, perundungan, serta perilaku berisiko mulai dari hubungan seksual dini, balapan liar, hingga judi online.

Permasalahan fisik yang sering menghantui remaja antara lain anemia, risiko penyakit metabolik seperti obesitas dan hipertensi, kecing manis, serta gangguan nutrisi seperti stunting. Penyakit menular juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi muda.

Untuk mendeteksi depresi, dr. Angga menyarankan untuk memperhatikan tanda-tanda seperti perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, kesulitan tidur, penurunan energi, serta hilangnya nafsu makan. Remaja yang merasa dirinya tidak baik juga perlu mendapat perhatian lebih dari lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, anxiety atau kecemasan dapat dikenali melalui gejala overthinking, penghindaran terhadap situasi tertentu, berkeringat berlebihan, sakit perut, kebutuhan akan penenangan, gerakan terus-menerus akibat kekhawatiran, sakit kepala, jantung berdebar, dan gangguan tidur. dr. Angga menambahkan bahwa gejala-gejala ini memang sulit dibedakan dari gangguan lainnya, sehingga diperlukan evaluasi profesional.

Leave a reply