Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Health

1 dari 42 Orang Indonesia Terindikasi Hepatitis B

Susan Hernandez - portalnara.com 3 mins read

Hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mengungkap bahwa 2,4 persen responden yang menjalani pemeriksaan biomedis menunjukkan hasil HBsAg reaktif. Angka

1 dari 42 Orang Indonesia Terindikasi Hepatitis B

Temuan SKI 2023: Setiap 42 Warga Indonesia, Satu Mengalami Indikasi Hepatitis B

Portalnara.com – Hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mengungkap bahwa 2,4 persen responden yang menjalani pemeriksaan biomedis menunjukkan hasil HBsAg reaktif. Angka ini secara statistik mencerminkan sekitar satu dari empat puluh dua penduduk Indonesia. Sampel tertimbang yang digunakan dalam survei ini mencakup 29.258 orang, memberikan gambaran menyeluruh mengenai beban penyakit di tingkat nasional.

Hasil reaktif HBsAg menandakan adanya infeksi hepatitis B pada saat pemeriksaan dilakukan. Namun, temuan ini belum secara otomatis membuktikan bahwa infeksi tersebut bersifat kronis. HBsAg merupakan singkatan dari hepatitis B surface antigen, yakni protein yang berada di permukaan virus hepatitis B. Ketika protein ini terdeteksi dalam aliran darah, kemungkinan besar seseorang sedang mengalami infeksi.

Mengapa Banyak Orang Terinfeksi Tetap Merasa Sehat?

Hepatitis B tidak selalu menimbulkan gejala klasik seperti demam, nyeri perut, urine berwarna gelap, atau kulit menguning. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sebagian besar individu tidak merasakan keluhan apapun saat baru pertama kali terinfeksi. Bahkan pada kasus infeksi kronis, virus dapat bertahan dalam tubuh jangka panjang tanpa menyebabkan gejala yang jelas.

Ketiadaan gejala bukan jaminan bahwa organ hati dalam kondisi aman. Peradangan dan pembentukan jaringan parut bisa berlangsung secara perlahan sementara pengidap tetap merasa bugar. Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 1.200 penderita hepatitis B tanpa gejala di Senegal menunjukkan bahwa sekitar 12 persen telah mengalami fibrosis hati signifikan. Selain itu, 3 persen di antaranya menderita sirosis, dan sepertiga memiliki kadar virus melebihi 2.000 IU/mL.

Perbedaan Berdasarkan Usia dan Lokasi

Data SKI mencatat variasi yang cukup mencolok menurut kelompok usia. Rendahnya angka pada anak kecil kemungkinan berkaitan dengan manfaat vaksinasi hepatitis B serta pencegahan penularan sejak lahir. Namun, karena SKI bersifat potong lintang, tidak dapat disimpulkan bahwa vaksinasi menjadi satu-satunya faktor penyebab perbedaan tersebut.

Angka yang lebih tinggi pada usia 35 hingga 64 tahun tidak serta merta berarti infeksi baru terjadi saat dewasa. Banyak orang mungkin telah tertular sejak lahir atau masa kanak-kanak, lalu menjalani hidup puluhan tahun tanpa mengetahui status mereka. Usia saat pertama kali terinfeksi sangat menentukan prognosis. Infeksi yang diperoleh saat dewasa hanya menjadi kronis pada kurang dari 5 persen kasus, sementara infeksi pada bayi dan anak usia dini berpotensi menjadi kronis pada sekitar 95 persen kasus.

Dari segi geografis, SKI mencatat HBsAg reaktif pada 3,1 persen penduduk perdesaan, lebih tinggi dibandingkan 1,9 persen di perkotaan. Secara ekonomi, kelompok terbawah mencatat angka 3,7 persen versus 1,8 persen pada kelompok teratas. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk akses vaksinasi, skrining ibu hamil, persalinan aman, informasi kesehatan, pemeriksaan laboratorium, dan layanan pengobatan.

Rekomendasi WHO dan Pentingnya Skrining

WHO merekomendasikan agar seluruh orang dewasa memiliki akses dan ditawari tes HBsAg di wilayah dengan prevalensi HBsAg lebih dari 2 persen. Dengan temuan nasional sebesar 2,4 persen dalam SKI 2023, Indonesia telah melewati ambang batas tersebut. Tes menjadi semakin penting bagi individu yang memiliki faktor risiko tertentu.

Di negara dengan beban hepatitis B yang cukup tinggi, infeksi sering diperoleh saat lahir atau pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, skrining rutin menjadi kunci untuk mendeteksi infeksi lebih awal dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Melindungi Keluarga Tanpa Mengisolasi Pengidap

Hasil tes HBsAg reaktif memerlukan tindak lanjut untuk menentukan apakah infeksi bersifat akut atau kronis. Infeksi hepatitis B kronis umumnya ditetapkan jika HBsAg tetap terdeteksi selama sedikitnya 6 bulan atau berdasarkan rangkaian pemeriksaan medis lain. Satu-satunya cara untuk mengetahui status hepatitis B adalah lewat tes darah di fasilitas kesehatan.

Penting untuk diingat bahwa pencegahan dan skrining tidak seharusnya hanya tersedia bagi orang yang tinggal dekat rumah sakit besar atau mampu membayar pemeriksaan sendiri. Yang menjadi perhatian di sini adalah memastikan akses yang merata bagi semua lapisan masyarakat. Jangan malu untuk melakukan tes dan melindungi orang-orang tersayang.

Leave a reply