Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi, Apa Penyebabnya?
Jika Anda mengamati grafik secara sekilas, mungkin terlihat bahwa kasus autisme melonjak tajam setelah pandemi. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa
Kenapa Jumlah Diagnosis Autisme Naik Pesat Pasca-Pandemi?
Portalnara.com – Jika Anda mengamati grafik secara sekilas, mungkin terlihat bahwa kasus autisme melonjak tajam setelah pandemi. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa kenaikan ini tidak merata di seluruh populasi. Sebaliknya, lonjakan tersebut terutama didorong oleh anak perempuan dan wanita dewasa yang selama ini cenderung lebih sulit dikenali sebagai autistik.
Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada Juli 2026 ini menunjukkan bahwa diagnosis pada laki-laki justru tidak mengalami peningkatan serupa. Bahkan, trennya cenderung stabil atau bahkan menurun.
Data yang Menunjukkan Pola Berbeda Berdasarkan Jenis Kelamin
Tim peneliti dari Saint Louis University menganalisis rekam medis elektronik sebanyak 171.134 orang dalam sistem kesehatan besar di Amerika Serikat. Seluruh peserta tercatat menggunakan layanan kesehatan minimal satu kali setiap tahunnya antara 2016 hingga 2024.
Secara keseluruhan, kejadian diagnosis autisme baru mengalami penurunan sekitar 6,8 persen per tahun dari 2016 hingga 2020. Setelah itu, angkanya berbalik meningkat sekitar 7,1 persen per tahun dari 2020 hingga 2024.
Namun, ketika data dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, pola yang muncul sangat berbeda. Pada perempuan, diagnosis baru meningkat rata-rata 19 persen per tahun dari 2020 hingga 2024. Jumlah perempuan yang menerima diagnosis baru naik dari 284 orang pada 2016 menjadi 513 pada 2024.
Sementara itu, pada laki-laki, tren sepanjang periode 2016–2024 justru menurun sekitar 3,8 persen per tahun. Kenaikan paling besar justru ditemukan pada remaja perempuan, yaitu sekitar 22,3 persen per tahun selama 2020–2024.
Mengapa Ini Bukan Bukti COVID-19 Menyebabkan Autisme
Penting untuk dicatat bahwa studi ini tidak mengukur apakah peserta pernah terinfeksi SARS-CoV-2, seberapa berat infeksinya, atau hubungan langsung antara infeksi individual dengan diagnosis autisme. Data yang dianalisis hanyalah tren diagnosis dari rekam medis.
Karena desain penelitian seperti ini, tidak dapat disimpulkan bahwa infeksi COVID-19 menyebabkan autisme. Petunjuk lainnya, ketika peneliti mengulangi analisis dengan menghapus seluruh data tahun 2020, pola utamanya tetap muncul. Diagnosis pada perempuan meningkat, sedangkan pada laki-laki stabil atau menurun.
Dalam analisis tersebut, titik perubahan kenaikan diagnosis perempuan bahkan bergeser ke 2018, sebelum pandemi dimulai. Ini menunjukkan bahwa faktor lain juga berperan penting.
Autisme pada Perempuan Sering Terlewatkan
Autisme merupakan kelompok kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terlihat sejak masa kanak-kanak, tetapi sebagian orang baru didiagnosis bertahun-tahun kemudian.
Selama bertahun-tahun, autisme lebih banyak didiagnosis pada laki-laki. Salah satu penjelasannya adalah adanya bias dalam pengenalan karakteristik autisme pada perempuan. Dalam studi terbaru, perempuan menerima diagnosis rata-rata pada usia 15,7 tahun, dibandingkan 12,3 tahun pada laki-laki.
Pada kelompok anak, median diagnosis pada perempuan adalah 8,5 tahun dan laki-laki 7,1 tahun. Para peneliti menjelaskan bahwa sebagian perempuan autistik dapat menunjukkan motivasi sosial yang lebih tinggi atau menggunakan strategi camouflaging. Strategi ini berupa mempelajari, meniru, atau secara sadar menyesuaikan perilaku agar kesulitan sosialnya kurang terlihat.
Akibatnya, karakteristik autisme dapat luput dari skrining yang secara historis banyak dibangun berdasarkan pola yang lebih sering dikenali pada laki-laki. Tinjauan sistematis terhadap 13 penelitian juga menemukan bukti bahwa social camouflaging merupakan fenomena yang berkaitan dengan perempuan autistik.
Pada sebagian anak perempuan, perbedaannya lebih jelas saat tuntutan sosial makin kompleks pada masa remaja. Ini bisa membantu menjelaskan mengapa peningkatan diagnosis paling tajam dalam penelitian terjadi pada remaja perempuan.
Faktor-Faktor Lain yang Berkontribusi
Para peneliti menilai peningkatan diagnosis kemungkinan berkaitan dengan beberapa faktor. Pertama, makin dikenalnya autisme pada perempuan. Kedua, diagnosis yang selama ini terlambat kini mulai terdeteksi. Ketiga, pemulihan layanan setelah pandemi. Keempat, penggunaan telehealth yang semakin luas. Kelima, perubahan praktik diagnostik.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Ada Kecurigaan Autisme?
Jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda autisme pada anak atau anggota keluarga, penting untuk mencari evaluasi profesional. Jangan menunggu terlalu lama, terutama jika ada kecurigaan pada anak perempuan yang mungkin menunjukkan gejala berbeda dari laki-laki.
Pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana autisme bermanifestasi pada perempuan dapat membantu memastikan diagnosis yang lebih akurat dan tepat waktu. Dengan demikian, intervensi dan dukungan yang dibutuhkan dapat diberikan lebih awal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi Apa Penyebabnya?
Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi Apa Penyebabnya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi Apa Penyebabnya matter?
Diagnosis Autisme Melonjak setelah Pandemi Apa Penyebabnya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.