Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Hype

Solving Problems: Ryan Adriandhy Gak Setuju Tayangan Anak Disebut Kelas Dua, Kenapa?

Lisa Rodriguez - portalnara.com 2 mins read

Ryan Adriandhy Tak Setuju Tayangan Anak Disebut Konten Kelas Dua Solving Problems - Membuat tayangan anak bukanlah hal yang mudah, menurut sutradara Ryan

Solving Problems: Ryan Adriandhy Gak Setuju Tayangan Anak Disebut Kelas Dua, Kenapa?

Ryan Adriandhy Tak Setuju Tayangan Anak Disebut Konten Kelas Dua

Solving Problems – Membuat tayangan anak bukanlah hal yang mudah, menurut sutradara Ryan Adriandhy. Sebagai pengusaha film yang pernah menggarap proyek seperti Jumbo dan Na Willa, ia menolak stigma bahwa karya yang ditujukan untuk generasi muda termasuk dalam kategori konten kelas dua. Baginya, menyelesaikan masalah dalam pembuatan film anak melibatkan proses kreatif yang sama kompleksnya dengan tayangan untuk dewasa.

Menyelesaikan Masalah dengan Pemahaman Mendalam

Ryan menekankan bahwa anak-anak bukanlah audiens yang bisa dibohongi. Mereka menilai dunia dengan perspektif unik, sehingga para kreator harus memahami cara berpikir mereka secara mendalam. Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa kunci menyelesaikan masalah dalam narasi anak adalah melalui interaksi langsung, seperti mendengarkan dan berdiskusi dengan mereka secara rutin.

Salah satu contoh penerapan pendekatan ini adalah dalam film Na Willa, yang menggambarkan dunia era 1960-an. Ryan mengakui awalnya khawatir cerita yang diangkat dari masa lalu sulit diterima oleh anak-anak saat ini. Namun, ia menemukan solusi dengan menjadikan karakter Na Willa sebagai narator utama, sehingga penonton merasa terhubung.

“Salah satu trik yang aku coba lakukan adalah memutuskan bahwa film ini akan dinarasikan oleh Na Willa. Dengan cara ini, aku punya celah agar penonton anak-anak bisa merasa, ‘Oh ini ada teman gue lagi cerita ke gue,’” ujar Ryan Adriandhy dalam konferensi pers Netflix di Senayan, Jakarta.

Konten anak harus memiliki cerita yang kuat dan penyampaian yang tepat, menurut Ryan. Ia menilai bahwa menyelesaikan masalah dalam menciptakan film untuk anak membutuhkan kesabaran dan usaha ekstra. “Kita tidak bisa hanya menganggap anak-anak sebagai target pasar, tapi harus memahami bahwa mereka punya kebutuhan dan selera yang sama seperti penonton dewasa,” tambahnya.

Konten Anak Bukan Hanya tentang Kenakalan

Ryan juga mengkritik cara industri film saat ini menangani tayangan anak. Menurutnya, banyak film yang diproduksi untuk generasi muda hanya mengandalkan tema kenakalan dan visual yang memukau, tanpa menyajikan makna yang lebih dalam. “Itu benar-benar mengganggu. Kita harus sama-sama sadar bahwa konten anak dan keluarga yang baik, memang datang dari orang dewasa yang peduli,” pungkasnya.

Dalam proses menyelesaikan masalah, Ryan menyebutkan bahwa kreatifitas dan penelitian sangat penting. Ia menekankan bahwa pembuatan film anak bukan sekadar memasukkan karakter lucu atau alur sederhana, tetapi harus melibatkan penceritaan yang berkualitas. “Mereka bisa merasakan ketidakjujuran, jadi kita harus benar-benar masuk ke level mereka,” jelas Ryan.

Dengan pendekatan ini, Ryan berharap tayangan anak bisa menjadi bagian dari industri film yang lebih inklusif. Ia berkeyakinan bahwa dengan memahami kebutuhan anak, para profesional dewasa bisa menciptakan karya yang lebih berdampak. “Anak-anak adalah masa depan, jadi kita harus memberikan mereka tayangan yang layak,” tegasnya.

Leave a reply