Trump Ungkap Iran Pernah Rencanakan Serangan Udara Terhadapnya
Portalnara.com – Iran Disebut Pernah Berencana Bunuh Trump – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengonfirmasi secara terbuka bahwa Teheran memang memiliki rencana rahasia untuk menewaskannya saat berada di atas pesawat Air Force One. Pengakuan penting ini disampaikan pada hari Selasa, setelah sebelumnya ia membantah laporan intelijen yang menyebutkan adanya ancaman serius tersebut pada bulan Juli lalu.
Menurut Trump, dirinya sempat dievakuasi secara mendadak oleh pasukan keamanan presiden untuk menghindari serangan rudal yang dilancarkan dari Iran. Ia menjelaskan dengan rinci bahwa petugas Secret Service dan militer ingin memindahkannya ke penerbangan lain dengan pesawat yang berbeda untuk memastikan keselamatannya.
Saya dikawal oleh Secret Service dan militer. Mereka ingin saya naik penerbangan yang berbeda, pesawat yang berbeda. Saya hanya harus melakukan apa yang mereka katakan. Saya rasa, sebenarnya pesawat yang saya tumpangi lebih berisiko. Saya rasa, pesawat itu lebih berisiko karena menurut saya itulah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka (Iran) incar.
Insiden Evakuasi di Ankara yang Mengejutkan
Kabar mengenai rencana pembunuhan ini pertama kali diungkap oleh Wall Street Journal berdasarkan keterangan seorang pejabat AS yang tidak menyebut namanya. Informasi tersebut disampaikan pada malam hari, Selasa, tanggal 11 Agustus 2026 waktu setempat. Kejadian ini menjadi berita besar di dunia internasional.
Pejabat anonim tersebut menerangkan bahwa sebelum kembali ke Amerika Serikat dari Turki pada bulan Juli, Trump tiba-tiba dievakuasi dari Air Force One. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan truk katering untuk memindahkan sang presiden ke pesawat militer yang sudah disiapkan di landasan pacu.
Langkah ini diambil setelah pasukan keamanan Trump menerima laporan dari intelijen Israel. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Iran berencana menembakkan rudal ke pesawat Air Force One saat Trump berada di dalamnya untuk terbang menuju Amerika Serikat. Ancaman ini dinilai sangat serius oleh para pejabat keamanan.
Pada saat itu, Trump sedang bersiap-siap terbang ke Washington setelah menghadiri konferensi tingkat tinggi NATO di Ankara, Turki. Ia rencananya akan menggunakan pesawat Air Force One baru yang dibeli dari Qatar. Penerbangan ini merupakan penerbangan internasional pertama Trump dengan pesawat kepresidenan yang baru tersebut.
Pejabat Tetap di Pesawat Selama Evakuasi
Meskipun Trump sudah dievakuasi, beberapa pejabat AS masih berada di dalam Air Force One. Di antaranya adalah Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta sejumlah ajudan senior Trump pada masa itu. Mereka tetap berada di pesawat untuk memastikan tidak ada ancaman yang terlewatkan.
Kabar baik datang dari Times of Israel yang melaporkan bahwa Trump dan para jajarannya akhirnya berhasil pulang ke AS dengan selamat. Rencana Iran untuk menembakkan rudal ke pesawat tersebut akhirnya urung terjadi. Semua pihak merasa lega setelah insiden ini berlalu.
Sebenarnya, kabar mengenai rencana Iran untuk membunuh Trump sudah menyebar sejak awal bulan Juli. Namun, saat itu belum ada informasi detail mengenai bagaimana rencana tersebut akan dijalankan. Trump sendiri tidak terlalu memedulikan ancaman pembunuhan dari Iran karena ia percaya negara mayoritas Islam Syiah tersebut tidak akan melakukan hal semacam itu kepadanya.
Alasannya sederhana, jika Iran membunuh Trump, perang bisa semakin memanas. Apalagi, konflik antara Washington dan Teheran saat ini belum sepenuhnya usai. Meskipun sudah tidak saling serang, keduanya masih menjalani perang dingin karena berbeda pendapat mengenai kesepakatan perdamaian.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Insiden Iran dan Trump
Apa yang terjadi dengan Air Force One saat insiden ini? Air Force One tetap berada di Ankara sementara Trump dievakuasi menggunakan truk katering ke pesawat militer lain. Beberapa pejabat AS termasuk Marco Rubio tetap berada di dalam pesawat.
Kapan rencana pembunuhan Iran terhadap Trump diungkap? Rencana ini pertama kali diungkap oleh Wall Street Journal pada malam hari, Selasa, tanggal 11 Agustus 2026 waktu setempat berdasarkan keterangan pejabat AS anonim.
Mengapa Trump tidak terlalu khawatir dengan ancaman Iran? Trump percaya Iran tidak akan membunuhnya karena hal tersebut dapat memicu perang yang lebih besar antara kedua negara yang sedang menjalani hubungan tegang.
Siapa yang memberikan informasi intelijen kepada Trump? Intelijen Israel memberikan laporan kepada pasukan keamanan Trump bahwa Iran berencana menembakkan rudal ke pesawat Air Force One saat Trump berada di dalamnya.

