News

Megawati Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim di Balik Abrasi Pantai Kuta

screenshot-2026-10-11-223141_256d763b-49b5-4818-8e29-6dd65518ddf1

Abrasi Pantai Kuta Jadi Sorotan, Megawati Tekankan Ancaman Krisis Iklim

Portalnara.com – Kondisi pesisir Pantai Kuta di Kabupaten Badung, Bali, kembali menjadi perhatian karena abrasi yang terus menggerus garis pantai. Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, menilai persoalan tersebut tidak dapat dipisahkan dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Dalam kunjungan lapangan pada Minggu, 11 Oktober 2026, Megawati mengingatkan bahwa isu pemanasan global dan mencairnya es di kawasan kutub sudah lama dibicarakan. Tantangannya kini adalah menyiapkan jawaban yang tepat melalui kerja bersama lintas bidang, terutama bagi generasi penerus.

“Ingat, ancaman dari global warming, pencairan es di kutub kian terasa bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” kata Megawati.

Peringatan itu memiliki arti penting bagi Bali, yang memiliki kawasan pantai sebagai ruang hidup masyarakat sekaligus penopang utama aktivitas wisata. Ketika garis pantai mundur, dampaknya bukan sekadar perubahan bentang alam. Ruang pasir yang digunakan pengunjung dapat menyempit, fasilitas umum di tepi pantai berisiko rusak, dan aktivitas ekonomi warga sekitar ikut terpengaruh.

Penanganan Tidak Bisa Dilakukan Parsial

Megawati menekankan bahwa karakter Indonesia berbeda dengan negara yang didominasi satu daratan kontinental. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kebijakan perlindungan pesisir perlu melihat keterhubungan antara laut, pantai, lingkungan, infrastruktur, serta kehidupan warga di sekitarnya.

“Orang-orang pintar di lembaga, kementerian, harus memahami bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, jadi jangan berpikir seperti menangani benua atau daratan kontinental,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar penanganan abrasi tidak dibatasi oleh kepentingan masing-masing sektor. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, dan masyarakat perlu dibangun melalui pendekatan ilmiah yang tetap menghormati kearifan lokal.

Dalam konteks Bali, Megawati mengangkat filosofi Tri Hita Karana, yang menempatkan keharmonisan manusia, alam, dan nilai spiritual sebagai bagian dari kehidupan. Prinsip tersebut dinilai relevan untuk membangun perlindungan pantai yang tidak hanya mengejar hasil fisik jangka pendek, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan pesisir.

“Jadi kerjanya jangan sepotong-sepotong,” ujar Megawati.

Garis Pantai Kuta Terus Mundur

Abrasi di Pantai Kuta disebut semakin mengkhawatirkan akibat cuaca ekstrem dan gelombang laut yang kuat. Data Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan laju kemunduran garis pantai di kawasan itu diperkirakan mencapai 1,9 meter setiap tahun. Kondisi tersebut secara langsung mengurangi luas area berpasir yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama Kuta.

Gelombang besar juga telah menimbulkan kerusakan pada sejumlah sarana di kawasan pesisir. Jalur pejalan kaki, tembok pembatas, hingga area yang digunakan pedagang menjadi bagian dari fasilitas yang terdampak. Situasi ini memperlihatkan bahwa perlindungan pantai berkaitan erat dengan keselamatan publik, kenyamanan wisatawan, dan keberlangsungan usaha warga.

Pantai bukan hanya batas antara daratan dan laut. Di kawasan seperti Kuta, pesisir merupakan ruang bersama yang menampung kegiatan rekreasi, mobilitas pejalan kaki, perdagangan, serta aktivitas sosial. Karena itu, pemulihan dan pengamanan pantai membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan fungsi-fungsi tersebut secara bersamaan.

85 Kilometer Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Hubungan Antarlembaga, Triono Junoasmono, menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur pengaman pantai terus dilakukan secara berkala. Ia menyebut lebih dari 30 persen dari total garis pantai Bali yang panjangnya melampaui 1.300 kilometer telah terkena abrasi.

Meski penanganan telah berjalan, masih terdapat kebutuhan penanganan sepanjang 85 kilometer. Angka itu menunjukkan besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan pemerintah pusat dan daerah untuk melindungi kawasan-kawasan pesisir Bali dari tekanan gelombang dan perubahan kondisi pantai.

“Dari 30 persen dari 1.300 kilometer lebih garis pantai di Bali yang terkena abrasi, kami masih menyisakan PR sepanjang 85 kilometer untuk ditangani, mudah-mudahan dengan kunjungan Ibu Ketua Dewan Pengarah BRIN dan pihak terkait lainnya bisa segera diselesaikan,” ujar Triono.

Pemerintah kini memprioritaskan pembangunan pemecah gelombang atau breakwater di bagian selatan Pantai Kuta. Infrastruktur ini dirancang untuk mengurangi energi ombak sebelum mencapai daratan, sehingga tekanan terhadap garis pantai dapat ditekan. Perlindungan tersebut diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi kawasan pesisir dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Upaya fisik seperti pemecah gelombang menjadi salah satu bagian dari strategi adaptasi, namun keberhasilannya tetap memerlukan kajian yang matang dan koordinasi berkelanjutan. Kondisi laut, pola gelombang, perubahan garis pantai, kebutuhan warga, serta perlindungan lingkungan perlu dipertimbangkan dalam satu arah kebijakan.

Sejumlah Pejabat Hadir dalam Peninjauan

Peninjauan di Pantai Kuta turut dihadiri Wakil Kepala BRIN Prof Amarulla Octavian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta. Hadir pula Gubernur Bali Wayan Koster serta Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta yang mendampingi Megawati selama kegiatan di kawasan pantai.

Kehadiran unsur pemerintah, BRIN, dan pemerintah daerah menegaskan bahwa abrasi Kuta memerlukan perhatian bersama. Perlindungan pesisir bukan hanya soal mempertahankan lanskap wisata, melainkan juga menjaga ruang hidup masyarakat dan memperkuat kesiapan Bali menghadapi dampak perubahan iklim yang terus berkembang.

Frequently Asked Questions

What is Megawati Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim di Balik?

Megawati Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim di Balik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Megawati Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim di Balik matter?

Megawati Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim di Balik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *