Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Science

5 Fakta Tibetan Fox – Dapat Beradaptasi di Suhu Dingin dan Panas

Susan Hernandez - portalnara.com 2 mins read

Fakta Unik tentang Tibetan Fox 5 Fakta Tibetan Fox - Tibetan fox, atau dikenal sebagai Vulpes ferrilata, adalah salah satu anggota keluarga anjing beruang

5 Fakta Tibetan Fox – Dapat Beradaptasi di Suhu Dingin dan Panas

Fakta Unik tentang Tibetan Fox

5 Fakta Tibetan Fox – Tibetan fox, atau dikenal sebagai Vulpes ferrilata, adalah salah satu anggota keluarga anjing beruang (Canidae) yang berasal dari Asia. Spesies ini pertama kali ditemukan di India sebagai rubah baru pada 2005, khususnya di Pegunungan Himalaya, menurut sumber roundglasssustain.

Kemampuan Adaptasi Suhu Ekstrem

Tibetan fox memiliki kemampuan unik untuk bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem. Mereka bisa menghadapi suhu tinggi hingga 30°C dan suhu dingin hingga -40°C. Karakteristik fisik mereka seperti wajah persegi dengan moncong tumpul dan lebar, serta bulu yang berwarna abu-abu pucat atau coklat muda dengan bagian bawah yang putih, memungkinkan adaptasi ini.

Wilayah dan Habitat

Habitat Tibetan fox mencakup ketinggian hingga 5.000 meter, seperti dataran tinggi Tibet, Ladakh, Sikkim, Nepal, dan Bhutan. Di India, mereka hanya terdapat di dataran tinggi Trans-Himalaya. Mereka tinggal di lanskap tanpa pepohonan, padang rumput semi-kering, dan stepa gurun.

Fitur Fisik Khas

Bulu ganda pada Tibetan fox menjadi penunjang utama untuk bertahan di cuaca dingin dan angin. Garis merah kontras di sepanjang punggungnya juga menjadi ciri khas. Ukuran rata-rata tubuh mereka sekitar 70 cm panjang tubuh dan 40 cm panjang ekor, dengan berat sekitar 5 kg.

Pertumbuhan dan Perilaku Reproduksi

Dalam hal reproduksi, Tibetan fox menunjukkan dimorfisme seksual. Jantan cenderung lebih besar dan berat daripada betina. Betina melahirkan lima anak setiap musim kawin, dan cub-cub mereka tinggal bersama induk hingga 10 bulan. Perkawinan terjadi sekitar akhir Februari hingga awal Maret, dengan pasangan yang bertanggung jawab mengasuh anak secara bersama.

“IUCN mengklasifikasikan tibetan fox sebagai resiko rendah atau aman dari kepunahan,”

Sebagian besar waktu, mereka berburu sendirian, terutama saat siang bolong. Mereka juga berkolaborasi dengan beruang coklat untuk menangkap mangsa, seperti pika, yang merupakan bagian utama dari diet mereka. Hubungan ini membantu keduanya dalam memburu dan bertahan hidup di lingkungan yang keras.

Keberadaan dan Ancaman

Tibetan fox hidup di daerah gunung, sehingga tidak memiliki predator alami selain manusia. Mereka sering dijebak dan dibunuh hanya untuk mengambil bulunya yang digunakan sebagai topi atau komoditas perdagangan satwa liar. Meski demikian, spesies ini masih tergolong belum banyak dikaji oleh para peneliti, karena baru diakui sebagai spesies baru sejak 2005.

Leave a reply