Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Business

Ekonom Ungkap Alasan Panda Bond Dilirik Investor

James Jackson - portalnara.com 3 mins read

Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi renminbi atau yang dikenal sebagai Panda Bond di pasar obligasi Tiongkok pada

Ekonom Ungkap Alasan Panda Bond Dilirik Investor

Analisis Mendalam: Mengapa Investor China Meminjamkan Dana Melalui Panda Bond Indonesia?

Portalnara.com – Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi renminbi atau yang dikenal sebagai Panda Bond di pasar obligasi Tiongkok pada Kamis, 23 Juli 2026. Total nilai penerbitan mencapai CNY 7 miliar atau setara dengan US$ 1,033 miliar. Langkah ini merupakan bagian integral dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan nasional.

Penerbitan kali ini terbagi menjadi dua seri dengan tenor berbeda. Seri pertama memiliki jangka waktu tiga tahun dengan nilai CNY 5,6 miliar dan menawarkan yield sebesar 1,9 persen. Sementara itu, seri kedua dengan tenor lima tahun senilai CNY 1,4 miliar memberikan imbal hasil sebesar 2,19 persen.

Respons Positif dari Pasar

Respons investor terhadap penerbitan perdana Panda Bond Indonesia sangat antusias. Total permintaan mencapai CNY 17 miliar, yang berarti oversubscribed sebanyak 2,4 kali lipat dari nilai penerbitan awal.

Irman Faiz, Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, menjelaskan bahwa angka oversubscription tersebut bukan sekadar kebetulan. Menurutnya, hal ini mencerminkan kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar Tiongkok yang sedang sangat mendukung.

“Oversubscription Panda Bond sebesar 2,4 kali mencerminkan kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar China yang sedang sangat mendukung. Jadi, tidak tepat jika tingginya permintaan hanya dikaitkan dengan imbal hasil ataupun semata-mata dianggap sebagai bukti kuatnya fundamental Indonesia,” ujar Irman saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).

Faktor Internal dan Eksternal yang Berperan

Dari perspektif fundamental, Indonesia tetap memiliki daya tarik sebagai penerbit surat utang negara berperingkat investment grade. Disiplin fiskal yang terjaga serta rekam jejak pembayaran utang yang baik menjadi fondasi kepercayaan investor.

Namun, faktor eksternal juga turut memberikan kontribusi signifikan. Menurut Irman, stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah Tiongkok serta tingkat suku bunga yang relatif rendah membuat likuiditas di pasar domestik Negeri Tirai Bambu melimpah. Kondisi tersebut mendorong investor mencari instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi tetapi tetap memiliki profil risiko yang baik.

“Dalam konteks tersebut, Panda Bond Indonesia menawarkan kombinasi yield dan kualitas kredit yang menarik,” katanya.

Nilai Strategis Jangka Panjang

Irman menilai, nilai strategis Panda Bond bukan hanya karena sukses menarik permintaan tinggi, tetapi juga membuka alternatif sumber pembiayaan pemerintah di luar pasar obligasi dolar AS maupun yen Jepang.

Pasar obligasi dolar AS masih menjadi yang terbesar dengan basis investor paling luas dan likuiditas terdalam sehingga cocok untuk penerbitan dalam skala besar. Sementara itu, obligasi berdenominasi yen umumnya menawarkan biaya pendanaan yang kompetitif, meski basis investornya lebih spesifik.

“Dengan masuk ke pasar obligasi onshore China, pemerintah memiliki fleksibilitas lebih besar untuk memilih pasar dan mata uang yang menawarkan biaya pendanaan paling efisien sesuai kondisi pasar, sekaligus memperluas basis investor,” ujarnya.

Pertimbangan Risiko Nilai Tukar

Meski demikian, Irman mengingatkan efisiensi biaya pendanaan bukan satu-satunya pertimbangan dalam penerbitan utang valas. Sebagian besar penerimaan pemerintah masih berasal dari rupiah, sedangkan pembayaran pokok dan kupon obligasi valas dilakukan dalam mata uang asing.

Artinya, semakin besar porsi utang valas, semakin tinggi pula eksposur terhadap risiko nilai tukar apabila rupiah mengalami pelemahan. Saat ini porsi penerbitan surat utang valas Indonesia masih sekitar 30 persen dari total penerbitan, yang relatif tinggi dibandingkan banyak negara ASEAN.

Karena itu, Panda Bond sebaiknya diposisikan sebagai instrumen diversifikasi mata uang, yaitu melengkapi atau menggantikan sebagian penerbitan global bond dalam dolar AS maupun yen ketika kondisi pasar China lebih menarik, bukan untuk terus meningkatkan porsi utang valas pemerintah.

Leave a reply