Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Business

3 Data Pribadi yang Paling Diincar Penipu, Jangan Sampai Lengah!

Sandra Gonzalez - portalnara.com 3 mins read

Di era digital yang semakin berkembang, perlindungan data pribadi menjadi hal yang sangat krusial. 3 Data Pribadi yang Paling sering diburu oleh para penipu

3 Data Pribadi yang Paling Diincar Penipu, Jangan Sampai Lengah!

Waspada! Tiga Informasi Pribadi yang Menjadi Target Utama Penipu Digital

Portalnara.com – Di era digital yang semakin berkembang, perlindungan data pribadi menjadi hal yang sangat krusial. 3 Data Pribadi yang Paling sering diburu oleh para penipu kini perlu menjadi perhatian serius bagi setiap pengguna internet. Transformasi teknologi di sektor keuangan telah membawa kemudahan luar biasa bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas harian. Berbagai metode pembayaran digital yang bermunculan memang memangkas banyak tahapan, sehingga proses transaksi menjadi lebih efisien dan cepat. Akan tetapi, kemajuan ini juga membawa serta ancaman baru berupa modus penipuan yang semakin canggih dan terorganisir.

Salah satu taktik yang terus berkembang adalah pencurian identitas dengan menyamar sebagai lembaga resmi. Pelaku bertujuan mengumpulkan informasi pribadi korban demi keuntungan mereka. Untuk meminimalkan risiko, penting bagi kita memahami jenis data apa saja yang paling sering diburu oleh oknum tidak bertanggung jawab. Dengan mengetahui informasi ini, kita dapat lebih waspada dan melindungi diri dari berbagai modus penipuan yang beredar di masyarakat.

1. Nama Lengkap dan Nomor Telepon sebagai Gerbang Awal

Meskipun sering dianggap sebagai informasi dasar dan tidak terlalu sensitif, kombinasi nama dan nomor kontak justru menjadi gerbang awal bagi penipu. Dengan kedua data ini saja, pelaku bisa menghubungi calon korban dan berpura-pura menjadi perwakilan institusi resmi. Tujuannya adalah menggali informasi yang lebih berharga dari korban melalui percakapan yang meyakinkan.

Masyarakat perlu berhati-hati setiap kali menerima panggilan atau pesan dari nomor yang tidak dikenali, terutama jika isi pesan tersebut meminta pengungkapan data pribadi atau kredensial akun tertentu. Penipu sering kali menggunakan teknik social engineering untuk membuat korban merasa nyaman dan percaya. Oleh karena itu, selalu verifikasi identitas penelpon sebelum memberikan informasi apapun.

2. Password dan Kode OTP sebagai Penjaga Keamanan

Dua elemen krusial ini berfungsi sebagai penjaga utama keamanan setiap akun digital. Ketika password dan kode verifikasi OTP berhasil dicuri, penipu memiliki akses penuh untuk menguasai akun dan memanfaatkannya sesuai keinginan mereka. Kreativitas para penipu dalam merampas kedua informasi ini terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi.

Salah satu tren terkini adalah memanfaatkan sesi online meeting untuk meminta korban melakukan share screen. Dalam situasi tersebut, korban diminta membuka aplikasi perbankan atau layanan tertentu lalu memasukkan password, PIN, atau kode OTP.

Oleh karena itu, jangan pernah sembarangan membagikan kedua informasi ini, bahkan kepada pihak yang mengklaim sebagai representasi resmi. Selalu pastikan bahwa tidak ada orang lain yang dapat melihat layar Anda saat memasukkan data sensitif. Kehati-hatian kecil dapat mencegah kerugian besar di kemudian hari.

3. Data Keuangan yang Harus Dilindungi

Nomor rekening, detail kartu debit atau kredit, serta informasi pembayaran lainnya termasuk kategori data vital yang harus dilindungi. Pelaku menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan data ini, mulai dari berpura-pura sebagai petugas bank atau customer service hingga menawarkan hadiah atau bantuan tertentu. Jika data keuangan ini bocor, pelaku berpotensi mengakses rekening atau melakukan transaksi tanpa persetujuan pemiliknya.

Kuncinya adalah tidak pernah membagikan informasi pembayaran kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang mengaku berasal dari institusi resmi. Selalu periksa alamat email dan nomor telepon pengirim sebelum merespons pesan yang meminta data keuangan. Jangan tergiur oleh penawaran yang terlihat terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Secara umum, penipu jarang meminta data secara langsung. Mereka mengandalkan kemampuan menyamar dengan meyakinkan, kemudian menciptakan rasa panik atau ketertarikan pada korban. Akibatnya, korban tanpa sadar memberikan informasi, mengklik tautan mencurigakan, atau mengikuti instruksi yang berujung pada pencurian akun. Selain itu, aplikasi e-commerce yang sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari juga menyimpan data keuangan yang perlu dijaga, seperti platform Shopee.

Masyarakat dapat melindungi diri dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, selalu verifikasi pengirim informasi terkait Shopee. Pesan resmi hanya berasal dari dalam aplikasi, akun WhatsApp Shopee dengan centang biru, media sosial resmi yang sudah terverifikasi, atau nomor customer service 1500702. Kedua, gunakan fitur “Cek Fakta” yang tersedia di menu “Saya” kemudian “Customers Service” pada aplikasi Shopee untuk memvalidasi setiap klaim. Ketiga, ikuti perkembangan modus penipuan dengan rutin memeriksa update dari Instagram @shopeecare_id.

Leave a reply