Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Health

Key Issue: Psikolog Ungkap Alasan Pelaku Terus Menganiaya Pasangan, Bukan Khilaf

Linda Miller - portalnara.com 3 mins read

Key Issue: Psikolog Ungkap Alasan Pelaku Terus Menganiaya Pasangan, Bukan Khilaf Key Issue adalah topik utama yang sering dibahas dalam diskusi mengenai

Key Issue: Psikolog Ungkap Alasan Pelaku Terus Menganiaya Pasangan, Bukan Khilaf

Key Issue: Psikolog Ungkap Alasan Pelaku Terus Menganiaya Pasangan, Bukan Khilaf

Key Issue adalah topik utama yang sering dibahas dalam diskusi mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Dalam kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap perempuan di Bandung, muncul pertanyaan mengapa seseorang terus-menerus menyakiti pasangan. Psikolog Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist dan Direktur Personal Growth, menjelaskan bahwa kekerasan berulang pada pasangan tidak hanya muncul dari emosi sesaat, melainkan menjadi bagian dari pola perilaku untuk menguasai dan mengendalikan korban. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecenderungan melakukan kekerasan tidak selalu terkait dengan impulsif, tetapi lebih terstruktur dan berulang.

Siklus Kekerasan: Ketegangan, Ledakan, dan Pemulihan

Kekerasan dalam hubungan pasangan cenderung mengikuti siklus tertentu yang terdiri dari tiga tahap utama: ketegangan meningkat, ledakan emosi berupa aksi kekerasan, dan fase pemulihan di mana pelaku menunjukkan sikap manis atau permintaan maaf. Pola ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan sekadar reaksi spontan, tetapi strategi psikologis yang disengaja untuk mempertahankan dominasi. Key Issue ini menjadi penting karena menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan rumah tangga sering kali didasari kebiasaan berpola yang diulang hingga korban kehilangan kepercayaan diri.

“Key Issue dalam kekerasan berulang adalah adanya mekanisme kontrol yang terus-menerus. Pelaku tidak hanya marah, tetapi juga memiliki tujuan jangka panjang untuk mengendalikan pasangan melalui rasa takut dan kepatuhan,” terang Ratih kepada IDN Times.

Penyebab Utama Kekerasan Berulang: Pola Pikir dan Lingkungan

Berbagai faktor psikologis dan lingkungan menjadi penyebab utama kekerasan berulang dalam hubungan pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan melakukan kekerasan sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil yang penuh trauma, kebutuhan kontrol tinggi, serta kesulitan mengelola emosi secara efektif. Key Issue ini juga terkait dengan keyakinan yang salah bahwa kekerasan adalah cara memecahkan masalah, atau bahkan menganggapnya sebagai bentuk cinta yang ekstrem.

Menurut Ratih, kekerasan berulang bisa muncul dari kombinasi emosi dan kebiasaan. Misalnya, pelaku mungkin menggunakan kekecewaan sebagai alasan untuk menindas, sementara itu pola kekerasan yang mereka lakukan telah menjadi kebiasaan. “Key Issue ini menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu berasal dari kehilangan kendali emosional, melainkan dari usaha mengendalikan situasi dengan cara yang terstruktur,” tambahnya.

Kebiasaan Kekerasan: Dari Praktik Harian ke Kebiasaan Berkepanjangan

Key Issue dalam kekerasan berulang juga terkait dengan bagaimana pelaku membangun kebiasaan berpola dalam interaksi sehari-hari. Kebiasaan ini bisa muncul dari terbiasa melihat kekerasan dalam lingkungan keluarga, seperti pengalaman sebagai anak yang dihukum secara kasar oleh orang tua. Akibatnya, pelaku mungkin menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar dalam hubungan.

Ratih menekankan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor kepribadian, lingkungan sosial, dan budaya. Key Issue ini tidak bisa diatasi hanya dengan perubahan emosi sesaat, melainkan memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika hubungan dan peran setiap pihak dalam menjaga keseimbangan. “Pemahaman ini bisa membantu masyarakat mengenali masalah sejak dini dan mengambil tindakan pencegahan,” jelasnya.

Langkah-Langkah Mengatasi Key Issue Kekerasan Berulang

Untuk mengatasi Key Issue kekerasan berulang, penting bagi korban dan pelaku untuk memahami akar masalahnya. Langkah-langkah seperti komunikasi terbuka, pelatihan manajemen emosi, serta intervensi profesional dari psikolog atau konselor menjadi solusi yang efektif. Key Issue ini juga bisa dikurangi melalui edukasi masyarakat tentang dampak kekerasan jangka panjang, termasuk bagaimana kebiasaan tersebut mengganggu kesehatan mental dan hubungan sosial.

Di samping itu, dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga, teman, dan komunitas juga memainkan peran penting dalam memecahkan Key Issue ini. Korban kekerasan sering kali merasa malu atau takut untuk melaporkan kasus, sehingga partisipasi dari orang-orang di sekitarnya sangat diperlukan. Ratih menyarankan bahwa memahami Key Issue dalam kekerasan berulang adalah langkah awal untuk menciptakan perubahan yang lebih luas dalam masyarakat.

Leave a reply