Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

Solving Problems: Penampakan Jemaah Padati Haul Habib dan Alim Ulama Betawi di Monas

William Garcia - portalnara.com 3 mins read

bib dan Alim Ulama Betawi di Monas Solving Problems - Event Haul Habib dan ulama Betawi yang digelar di Monas, Jakarta, menjadi contoh nyata bagaimana

Solving Problems: Penampakan Jemaah Padati Haul Habib dan Alim Ulama Betawi di Monas

Solving Problems: Penampakan Jemaah Padati Haul Habib dan Alim Ulama Betawi di Monas

Solving Problems – Event Haul Habib dan ulama Betawi yang digelar di Monas, Jakarta, menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat berupaya menyelesaikan masalah bersama. Ribuan jemaah, terdiri dari penduduk tiga kelurahan—Cempaka Putih Barat, Rawasari, dan Cempaka Putih Timur—memadati lokasi acara yang berlangsung dari pukul 18.30 hingga 22.00 WIB, Jumat (19/6/2026). Mereka tiba menggunakan TransJakarta dengan pakaian seragam putih, termasuk para perempuan yang mengenakan gamis dan kerudung, serta laki-laki yang memakai baju muslim. Penampilan seragam ini mencerminkan kekompakan dan semangat menyelesaikan masalah dalam menyatukan identitas budaya Betawi dengan keberagaman masyarakat Jakarta.

Masyarakat Betawi Menyuarakan Kebudayaan dan Persatuan

Kehadiran ribuan jemaah menunjukkan antusiasme tinggi terhadap upaya menyatukan masyarakat Betawi dengan berbagai elemen budaya dan agama lain. Pramono Anung, seorang tokoh yang hadir dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa Haul Habib ini menjadi ajang untuk menyelesaikan berbagai isu terkait keberadaan komunitas Betawi di kota besar. “Kami berharap melalui acara ini, semua pihak bisa memahami nilai-nilai kebetawian dan bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah bersama,” ujarnya. Acara ini juga bertujuan menguatkan persatuan masyarakat Jakarta yang beragam, sekaligus menjaga identitas budaya Betawi sebagai bagian dari ibu kota.

“Bang Foke. Beliau itu Betawi banget. Yang lain-lain sudah selesai. Beliau hanya meminta kepada saya, kalau berdua manggilnya ‘Mas’. ‘Mas, bisa nggak urusan kebetawian ini diselesaikan?’,” ujar Pramono Anung saat membuka acara hari kedua Indonesia Summit 2026 di The Tribrata, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).

Pramono menekankan bahwa kegiatan Haul Habib adalah bagian dari solusi untuk mengatasi kesenjangan dan prasangka yang sering muncul dalam masyarakat. “Menyelesaikan masalah kebetawian tidak bisa hanya dengan ucapan, tapi harus dilakukan secara konkret melalui kegiatan seperti ini,” tambahnya. Acara yang digelar di Monas, selain menjadi ruang untuk berdoa, juga berfungsi sebagai wadah dialog antar komunitas. Selain itu, kehadiran ulama Betawi dalam acara ini menunjukkan upaya menjaga warisan budaya yang kini mulai terancam oleh urbanisasi dan perubahan pola hidup masyarakat.

Kegiatan Haul Habib: Upaya Menyelesaikan Masalah Identitas Budaya

Sebagai pertama kalinya, Haul Habib dan ulama Betawi diadakan di DKI Jakarta, acara ini menjadi langkah penting untuk menyelesaikan masalah identitas budaya yang selama ini terabaikan. Pramono Anung menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi simbol kebersamaan dan pengakuan terhadap keberagaman. “Kami ingin menyelesaikan masalah dengan membangun kesadaran kolektif tentang kebetawian,” ujarnya. Acara tersebut juga dirancang untuk menghadirkan wajah-wajah ulama Betawi yang masih aktif dalam masyarakat, serta memperkuat hubungan antar tokoh agama.

“Jadi, saya akan duduk dengan tokoh-tokoh yang dulu mengkritisi dan mendemo saya terus-menerus. Nggak apa-apa. Itu adalah bagian bagaimana kita bisa bersatu dengan siapa saja,” ujar Pramono.

Menyelesaikan masalah identitas budaya Betawi juga melibatkan komunikasi intensif dengan pihak-pihak yang pernah berselisih. Pramono Anung menyebut bahwa banyak pihak yang awalnya skeptis kini terbuka untuk berdiskusi. “Melalui Haul Habib, kami menyelesaikan masalah dengan cara yang santai, namun tetap mendalam,” katanya. Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi awal dari solusi jangka panjang untuk melestarikan budaya Betawi sekaligus menjembatani perbedaan yang ada.

Para jemaah yang hadir juga memberikan respons positif terhadap kegiatan ini. Emi Wijaya (58), salah satu peserta, mengungkapkan bahwa kehadirannya bukan hanya untuk menghormati ulama, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap upaya menyatukan masyarakat. “Karena kami menyukai ulama, karena di sini ada para ulama dari seluruh Jakarta, jadi kami datang untuk menghormati dan mencintai mereka,” tambahnya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi generasi muda Betawi untuk merasa diakui dan terlibat dalam pembangunan identitas budaya mereka.

Dengan menyelesaikan masalah melalui kegiatan seperti Haul Habib, masyarakat Betawi berharap bisa menginspirasi komunitas lain untuk melibatkan diri dalam menjaga keberagaman. Acara di Monas, yang dihadiri oleh ribuan orang, membuktikan bahwa dialog dan kerja sama adalah kunci dalam menyelesaikan tantangan bersama. Dengan menyelesaikan masalah secara kolaboratif, kegiatan ini juga membuka jalan bagi kebudayaan Betawi untuk tetap relevan di tengah dinamika kota yang terus berkembang.

Leave a reply