Skip to content
Royal desk
Agustus 3, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

Solving Problems: Yusril: Awasi Kasus Febrie agar Tak Jadi ‘Jeruk Makan Jeruk’

Daniel Moore - portalnara.com 3 mins read

gar Tak Jadi 'Jeruk Makan Jeruk' Solving Problems - Menjaga keadilan dalam proses hukum menjadi prioritas utama Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM

Solving Problems: Yusril: Awasi Kasus Febrie agar Tak Jadi ‘Jeruk Makan Jeruk’

Solving Problems: Yusril Awasi Kasus Febrie agar Tak Jadi ‘Jeruk Makan Jeruk’

Solving Problems – Menjaga keadilan dalam proses hukum menjadi prioritas utama Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap kasus dugaan korupsi yang melibatkan Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), agar tidak dianggap sebagai ‘jeruk makan jeruk’ oleh masyarakat. Dalam upaya menyelesaikan masalah ini, Yusril berharap Kejaksaan Agung dapat memastikan independensi penyidikan dan penuntutan, sehingga proses hukum tetap objektif dan transparan.

Peran Kejaksaan dalam Menyelesaikan Masalah Korupsi

Kasus Febrie menjadi sorotan publik karena adanya kecurigaan bahwa penyidik dan jaksa yang menangani perkara tersebut pernah berasosiasi dengan tersangka. Hal ini, menurut Yusril, bisa menimbulkan keraguan terhadap keobjektifan proses hukum. Ia menjelaskan bahwa meski Kejaksaan memiliki kecepatan dalam menyelesaikan kasus, kini tantangan terbesar adalah menjaga integritas institusi, terutama karena tersangka adalah mantan pejabat tinggi di dalamnya.

“Publik tentu akan bertanya, jangan-jangan ini menjadi ‘jeruk makan jeruk’ karena penyidik dan Jaksa Penuntut Umum yang menangani perkara tersebut pernah menjadi anak buah tersangka. Keraguan seperti itu harus dijawab melalui proses hukum yang berjalan secara tegas, profesional, dan transparan,” ujar Yusril dalam keterangan tertulis.

Langkah-Langkah untuk Menyelesaikan Masalah Hukum

Menurut Yusril, langkah-langkah penting untuk menyelesaikan masalah hukum ini meliputi pelimpahan kasus dari Polri ke Kejaksaan Agung, yang secara normatif bisa mempercepat proses. Ia mengakui bahwa dari segi hukum acara, penyelesaian perkara memang lebih efisien ketika dilakukan oleh satu badan penyidik. Namun, efisiensi ini tidak boleh mengorbankan objektivitas, terutama dalam kasus yang menyangkut pejabat tinggi.

Dalam menyelesaikan masalah korupsi, Yusril menyoroti bahwa pengawasan oleh lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah membuka ruang bagi berbagai pihak, termasuk media, DPR, dan akademisi, untuk memantau jalannya penyidikan hingga penuntutan. Dengan adanya pengawasan eksternal, Yusril yakin hukum dapat ditegakkan secara adil dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan di luar prosedur.

Strategi Menyelesaikan Masalah Korupsi yang Berkelanjutan

Kasus Febrie juga menjadi contoh bagaimana menyelesaikan masalah korupsi memerlukan sistem yang solid dan terpercaya. Yusril menekankan bahwa pengawasan internal dan eksternal harus dijalankan secara konsisten agar tidak ada kelemahan dalam proses. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan masalah ini bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga kualitas, terutama dalam menjamin bahwa setiap langkah dilakukan dengan prinsip hukum yang adil.

Dalam menyampaikan pendapatnya, Yusril menyebutkan bahwa dengan adanya mekanisme pengawasan yang baik, masyarakat akan merasa yakin bahwa kasus yang ditangani oleh Kejaksaan Agung tidak hanya menjadi bentuk penegakan hukum, tetapi juga sebagai upaya untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh. Ia berharap, keberhasilan dalam menyelesaikan kasus ini bisa menjadi dasar bagi penegakan hukum yang lebih baik di masa depan.

Kasus Febrie juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam menyelesaikan masalah korupsi. Yusril menyoroti bahwa pejabat tinggi yang terlibat dalam kasus harus diperlakukan secara sama, baik dalam proses penyidikan maupun penuntutan. Ia mengingatkan bahwa tidak adanya bias dalam penegakan hukum akan menjadi bukti bahwa proses ini benar-benar independen dan profesional.

Sebagai bagian dari menyelesaikan masalah korupsi, Yusril menekankan bahwa transparansi dalam setiap tahap proses hukum adalah kunci utama. Ia menyarankan bahwa Kejaksaan Agung harus merangkul kritik dari berbagai pihak untuk memastikan bahwa proses hukum tidak hanya cepat, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan. Dengan menyelesaikan masalah ini secara baik, Yusril optimis bahwa kepercayaan publik terhadap institusi hukum dapat dipulihkan.

Leave a reply