Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

Prabowo: Kritik Boleh, Tapi Jangan Lemahkan Semangat Bangsa

Thomas Miller - portalnara.com 3 mins read

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan tegas terhadap berbagai narasi yang memprediksi Indonesia akan mengalami keruntuhan sistemik

Prabowo: Kritik Boleh, Tapi Jangan Lemahkan Semangat Bangsa

Prabowo: Kritik Boleh, Tapi Jangan Lemahkan Semangat Bangsa

Portalnara.com – Jakarta — Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan tegas terhadap berbagai narasi yang memprediksi Indonesia akan mengalami keruntuhan sistemik. Menurutnya, klaim-klaim tersebut terus bermunculan dari masa ke masa, namun belum pernah terbukti kebenarannya hingga saat ini. Pernyataan penting ini disampaikan saat ia menghadiri peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi memang membuka ruang luas bagi kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi upaya menjatuhkan atau melemahkan moral bangsa. Menurut pandangan Presiden, terdapat perbedaan mendasar antara menyampaikan pendapat dengan menyebarkan hal-hal yang berpotensi merugikan negara secara keseluruhan.

Narasi Collapse yang Terus Berulang

Presiden menyoroti pola prediksi yang selalu menyebut Indonesia akan runtuh setiap bulannya. Ia menceritakan bagaimana narasi tersebut terus berulang tanpa henti, menciptakan kecemasan yang tidak perlu di kalangan masyarakat. Setiap bulan selalu ada prediksi baru yang terdengar dramatis namun tidak memiliki dasar yang kuat.

“Jadi saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan collapse bulan April akan collapse, eh April lewat nggak collapse. Bulan Mei akan collapse, bulan Mei lewat nggak collapse. Bulan Juni akan collapse, bulan Juli akan collapse, tiap bulan akan collapse,” kata Prabowo di JCC, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, masyarakat tidak perlu mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang bertujuan melemahkan keyakinan terhadap masa depan Indonesia. Prediksi-prediksi tersebut, menurut Presiden, tidak memiliki dasar yang kuat dan cenderung bersifat sensasional semata.

Analogi Pertandingan Sepak Bola

Untuk menjelaskan posisinya dengan lebih jelas, Prabowo menggunakan perumpamaan tentang sebuah tim sepak bola yang sedang bertanding. Ia menilai masyarakat seharusnya berperan sebagai suporter yang memberikan semangat, bukan justru membuat pemain kehilangan kepercayaan diri di tengah pertandingan yang berlangsung.

“Saudara-saudara kita kalau kita cinta sama satu kesebelasan umpamanya ya, kesebelasan kita lagi main sepak bola, bener nggak? Dia lagi bertarung, dia lagi bertanding di lapangan kita kan sebagai suporter ya kan, ayo, ayo maju,” ujar Prabowo.

Presiden menambahkan bahwa tidak tepat apabila ada pihak yang justru memberikan tekanan atau memperburuk situasi ketika pertandingan masih berlangsung. Ia mencontohkan bagaimana suporter yang tidak tepat bisa berkata, “Aduh tapi jangan turunkan moril dong orang lagi bertanding di situ. Nanti gol masuk, nanti kamu kalah, nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa? Suporter gendeng.”

Kritik dalam Koridor yang Membangun

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap masukan dari masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kritik merupakan bagian integral dari sistem demokrasi yang sehat. Namun, ia menekankan bahwa kritik harus tetap berada dalam koridor yang konstruktif dan tidak destruktif.

“Kita negara demokrasi, kita tidak antikritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujar Prabowo.

Referensi Londo Ireng di Era Modern

Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung adanya pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan negara lain. Ia mengaitkan fenomena ini dengan istilah “Londo Ireng” yang pernah digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk menyebut mereka yang berpihak kepada penjajah.

Prabowo menjelaskan bahwa pihak-pihak tersebut kini dapat muncul dalam berbagai latar belakang profesi, termasuk sebagai pengamat, jurnalis, maupun organisasi masyarakat sipil. Ia menyoroti pertanyaan mendasar mengenai siapa yang menjadi pemberi gaji dan penanggung biaya hidup bagi mereka.

“Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan?” ujar Prabowo.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap akan menjalankan tugasnya selama berada di jalur yang diyakini benar. Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan dan keyakinan dalam menghadapi berbagai tantangan yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dengan semangat yang tidak mudah goyah, Indonesia diyakini akan terus melaju menuju kemajuan yang lebih baik.

Leave a reply