SMRC: Elektabilitas Prabowo Menurun, Dipengaruhi Sentimen Publik
SMRC - Jakarta — Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melaporkan adanya tren penurunan elektabilitas Prabowo Subianto dalam survei nasional
Elektabilitas Prabowo Subianto Tergerus Sentimen Publik, SMRC Catat Penurunan Signifikan
Portalnara.com – SMRC – Jakarta — Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melaporkan adanya tren penurunan elektabilitas Prabowo Subianto dalam survei nasional yang berjudul “Elektabilitas Calon-calon Presiden”. Deni Irvani, Direktur Eksekutif SMRC, menguraikan bahwa dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir, angka elektabilitas Prabowo pada simulasi semi terbuka mengalami penurunan drastis. Pada survei November 2026, elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 34,9 persen, namun pada survei Juli 2026 angka tersebut anjlok menjadi 14,5 persen.
Penelitian ini dilaksanakan pada rentang tanggal 5 hingga 19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 605 responden yang memiliki perangkat handphone diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling. Sementara itu, 144 responden tanpa telepon seluler dijangkau secara tatap muka dengan menerapkan stratified multistage random sampling. Survei ini memiliki margin of error sebesar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Posisi Prabowo dalam Simulasi Semi Terbuka
Dalam simulasi semi terbuka yang menghadirkan 20 nama calon presiden, Prabowo Subianto menempati posisi dengan elektabilitas 14,5 persen. Angka tersebut berada di bawah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang memimpin dengan perolehan 35 persen. Posisi ketiga ditempati oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan 8,2 persen. Di bawahnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meraih 7,7 persen, disusul Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebesar 4,9 persen. Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mencatatkan 4,2 persen, sementara mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, berada di angka 4 persen. Sebanyak 12,8 persen responden lainnya belum menentukan pilihan.
SMRC juga melakukan uji simulasi head-to-head atau dua nama, yaitu Prabowo Subianto versus Dedi Mulyadi. Hasilnya menunjukkan Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 59 persen, sedangkan Prabowo hanya mendapat 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum menjawab dalam simulasi tersebut.
Korelasi dengan Sentimen Publik dan Program Prioritas
Menurut SMRC, penurunan elektabilitas Prabowo sejalan dengan meredanya sentimen positif terhadap kinerjanya serta kondisi makro selama masa pemerintahan Prabowo. Dalam survei Februari-Maret 2026, elektabilitas Prabowo turun dari 50,5 persen menjadi 28,3 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi justru meningkat dari 42,6 persen menjadi 59 persen dalam periode yang sama.
Penurunan elektabilitas Prabowo juga dipicu oleh turunnya sentimen positif terhadap dua program prioritas, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) atau Kopdes. Dalam sembilan bulan terakhir, kepuasan terhadap pelaksanaan MBG turun dari 62 persen pada November 2025 menjadi 53 persen pada Februari-Maret 2026, lalu kembali merosot menjadi 34 persen pada Juli 2026. Sementara itu, keyakinan masyarakat terhadap perkembangan Kopdes juga mengalami penurunan dari 43 persen pada November 2025 menjadi 42 persen pada Februari-Maret 2026, kemudian merosot menjadi 25 persen pada Juli 2026.
Perbandingan dengan Presiden Sebelumnya
SMRC membandingkan elektabilitas Prabowo dengan dua presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko “Jokowi” Widodo. Elektabilitas SBY pada awal masa pemerintahannya cenderung stabil. Dalam survei Desember 2005 dan Januari 2006, elektabilitas SBY sama-sama berada di angka 40 persen. Angka tersebut sempat turun tipis menjadi 39 persen pada Maret 2006, sebelum kembali meningkat menjadi 44 persen pada Agustus 2006. Berbeda dengan SBY, elektabilitas Jokowi justru menunjukkan kenaikan. Pada survei Oktober 2015, elektabilitas Jokowi tercatat sebesar 31 persen. Angka tersebut naik menjadi 33 persen pada Desember 2015.
“SMRC menilai, penurunan elektabilitas Prabowo bersamaan dengan turunnya sentimen positif atas kinerjanya, dan kondisi-kondisi makro yang terjadi pada masa pemerintahan Prabowo,” ujar Deni Irvani.
Hal serupa juga terjadi pada penilaian terhadap kondisi nasional. Dari perbandingan penelitian yang dilakukan pada November 2025 dan Juli 2026, penilaian positif terhadap kondisi ekonomi turun dari 40 persen menjadi 16 persen, kondisi politik dari 36 persen menjadi 13 persen, dan penegakan hukum dari 43 persen menjadi 26 persen dalam periode November 2025 hingga Juli 2026. Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo turun dari 81 persen pada November 2025, menjadi 66 persen pada Februari-Maret 2026, lalu kembali merosot menjadi 51 persen pada Juli 2026.