Ada El Nino, Pemerintah Siagakan 240 Bendungan Antisipasi Kekeringan
Jakarta, Indonesia — Dalam menghadapi ancaman kekeringan yang dipicu oleh fenomena Ada El Nino , pemerintah pusat telah melakukan langkah strategis dengan
Ada El Nino Pemerintah Siagakan 240 Bendungan untuk Antisipasi Kekeringan
Portalnara.com – Jakarta, Indonesia — Dalam menghadapi ancaman kekeringan yang dipicu oleh fenomena Ada El Nino, pemerintah pusat telah melakukan langkah strategis dengan menyiagakan 240 bendungan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya komprehensif untuk memastikan pasokan air tetap stabil selama musim kemarau tahun ini. Selain berfungsi sebagai penopang sektor pertanian, bendungan-bendungan tersebut juga berperan penting dalam pengendalian banjir, penyediaan air baku, serta menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Koordinasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Bakom RI), Kurnia Ramadhana, menekankan bahwa keberadaan bendungan merupakan kebutuhan mendesak mengingat sebagian besar wilayah pertanian di Indonesia masih sangat bergantung pada pola tanam tadah hujan.
“Tanpa dukungan bendungan dan irigasi yang memadai, banyak wilayah pertanian masih mengandalkan pola tanam tadah hujan yang rentan terhadap perubahan musim termasuk ancaman kekeringan saat El Nino maupun banjir curah hujan tinggi,” ujar Kurnia dalam konferensi pers di Kantor Bakom, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Progres Pembangunan Bendungan di Seluruh Indonesia
Kurnia Ramadhana menjelaskan bahwa pemerintah telah meresmikan lima bendungan secara serentak pada tanggal 10 Juli 2026. Kelima bendungan tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yaitu Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Jelantah di Jawa Tengah, Bendungan Sidan di Bali, serta Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh yang berlokasi di Aceh. Seluruh bendungan tersebut telah dimulai pembangunannya sejak tahun 2015 hingga 2019 dan kini telah selesai, sehingga siap mendukung kebutuhan air, irigasi, serta pengendalian banjir di daerah masing-masing.
Menurut data resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum yang dipaparkan pada 21 Juli 2026, terdapat 240 bendungan yang telah beroperasi secara penuh. Selain itu, pemerintah masih melanjutkan pembangunan 15 bendungan baru dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp32,806 triliun. Pembangunan tersebut tersebar di 10 provinsi, meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Maluku. Proyek-proyek tersebut mencakup Bendungan Bagong, Bener, Budong-Budong, Bulango Ulu, Cabean, Cibeet, Cijurey, Jenelata, Jragung, Karangnongko, Manikin, Mbai, Riam Kiwa, Tiga Dihaji, serta Way Apu.
“Terkait progres pembangunan, menurut data Kementerian PU per 21 Juli 2026, saat ini terdapat 240 bendungan yang telah beroperasi dan 15 bendungan yang masih dalam pembangunan dengan kebutuhan anggaran sebesar 32,806 triliun rupiah,” ucap Kurnia.
Kapasitas dan Manfaat Bendungan untuk Ketahanan Air Nasional
Setiap bendungan memiliki kapasitas tampung dan cakupan layanan irigasi yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografis wilayahnya. Secara keseluruhan, seluruh proyek bendungan yang sedang dibangun diproyeksikan mampu menampung lebih dari 1 miliar meter kubik air dan mengairi lebih dari 200 ribu hektare lahan pertanian di berbagai daerah. Menurut Kurnia, pembangunan bendungan bukan hanya berorientasi pada penyediaan air untuk sawah, tetapi juga memperkuat ketahanan nasional melalui beragam fungsi strategis yang saling terkait.
“Secara total ke-15 bendungan ini diproyeksikan menampung air lebih dari 1 miliar meter kubik dan menyuplai kebutuhan irigasi untuk lebih dari 200.000 hektar lahan pertanian di berbagai wilayah Indonesia,” kata dia. Saat ini, 240 bendungan yang telah beroperasi menjadi salah satu infrastruktur utama yang disiagakan pemerintah menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino. Keberadaannya menjaga cadangan air tetap tersedia ketika curah hujan menurun drastis.
Selain bendungan, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan situ, danau, tampungan air baku, serta sumur bor untuk memperkuat ketersediaan air di berbagai wilayah. Kurnia menyampaikan, berdasarkan data Kementerian PU per 24 Juli 2026, total volume tampungan dari 240 bendungan mencapai 9,74 miliar meter kubik. Pemerintah juga memiliki 601 situ dan danau dengan volume tampungan 135,59 miliar meter kubik, 1.034 tampungan air baku berkapasitas 435,67 juta meter kubik, serta 10.789 sumur bor dengan kapasitas 114.811,487 meter kubik per detik.
“Menurut data Kementerian PU per 24 Juli 2026, 240 bendungan yang beroperasi memiliki total volume tampungan air mencapai 9,74 miliar meter kubik. Lalu ada 601 situ dan danau dengan total volume tampungan 135,59 miliar meter kubik, 1.034 tampungan air baku dengan total volume tampungan 435,67 juta meter kubik, dan 10.789 sumur bor dengan total kapasitas 114.811,487 meter kubik per detik,” ujar Kurnia.