Meeting Results: AI di Dunia Seni dan Kekayaan Intelektual: Teman Riset Atau Ancaman?
AI dalam Seni dan Kekayaan Intelektual: Teman Riset atau Ancaman? Meeting Results - Sebagai hasil diskusi dalam Meeting Results konferensi Indonesia Summit
AI dalam Seni dan Kekayaan Intelektual: Teman Riset atau Ancaman?
Meeting Results – Sebagai hasil diskusi dalam Meeting Results konferensi Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Tribrata, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026), peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia seni dan kekayaan intelektual menjadi topik utama. Jakarta, sebagai pusat perdebatan, menunjukkan bagaimana AI telah menembus berbagai aspek kehidupan, termasuk kreativitas seni. Pertanyaan muncul: apakah AI bisa menjadi partner riset yang bermanfaat, atau justru ancaman bagi esensi karya seni yang dihasilkan manusia?
Perspektif Dee: AI sebagai Alat Bantu dalam Kreativitas
Dewi Lestari, yang dikenal sebagai Dee, menyampaikan bahwa AI menjadi bagian tak terpisahkan dari proses kreatif di Meeting Results. “AI berfungsi sebagai asisten, mempercepat riset dengan menyediakan berbagai pilihan dalam hitungan menit, sementara sebelumnya saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk menemukan konteks yang sama,” ujarnya. Menurut Dee, teknologi ini bisa menjadi alat bantu yang efektif jika digunakan dengan bijak. Namun, ia memperingatkan bahwa kreator harus tetap mempertahankan kontrol atas karya mereka agar tidak kehilangan ciri khas kreativitas manusia.
“Saya gunakan AI untuk asistensi, misalnya saat mencari kutipan tertentu. Kalau dulu, saya butuh berjam-jam, tapi sekarang dalam satu menit langsung menghasilkan berbagai pilihan. Namun, jangan sampai AI menggantikan pemikiran kreatif yang otentik,” kata Dee.
Boim: AI Tidak Boleh Menggantikan Kreativitas Manusia
Adryanto Pratono atau Boim, CEO JUNI Records, mengkritik penggunaan AI dalam menciptakan musik. “Para penyanyi yang saya sign tidak diperbolehkan menggunakan AI saat menghasilkan lagu, karena kreativitas manusia adalah inti dari seni,” jelasnya. Ia menekankan bahwa meskipun AI bisa menjadi alat bantu, fungsi utamanya tetap berada di tangan manusia. “AI hanya alat, bukan sumber kebenaran mutlak. Kalau dianggap sebagai pengganti kreativitas, itu akan merusak esensi karya seni,” tambah Boim.
“Dalam Meeting Results ini, kami sepakat bahwa AI tidak boleh menghilangkan rasa kreatif yang menjadi ciri khas manusia. Kami pun menerapkan langkah-langkah khusus untuk memastikan keaslian karya tetap terjaga,” terang Boim.
Regulasi dan Perlindungan Hak Cipta
Supratman Andi Agtas, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, menyampaikan bahwa pemerintah sedang merevisi Undang-Undang Hak Cipta dalam konteks Meeting Results. “Kemenkum meninjau peran AI dalam karya seni, termasuk seberapa besar kontribusi teknologi ini dalam menciptakan karya,” katanya. Menurut Menteri Supratman, jika karya sepenuhnya dihasilkan oleh AI, perlindungan hukum mungkin terbatas karena seni dan emosi—yang menjadi inti karya—akan berkurang.
“Dalam Meeting Results saat ini, kita menyadari bahwa AI memiliki potensi besar, tetapi juga tantangan dalam menjamin keaslian karya. Negara perlu menyusun aturan yang jelas agar hak cipta tetap dijaga,” ujar Supratman.
Perkembangan AI dalam Seni: Tantangan dan Peluang
Para peserta Meeting Results sepakat bahwa AI membawa dampak ganda. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan akses ke berbagai bentuk seni, seperti musik, lukisan, atau tulisan. “AI bisa membantu kreator menciptakan karya dengan cepat, tetapi juga menyulitkan penentuan keaslian,” kata Dee. Di sisi lain, AI memberikan peluang bagi pengembangan seni digital, seperti seni generatif atau karya yang menggabungkan elemen manusia dan mesin.
Boim menyebutkan bahwa JUNI Records sudah melakukan langkah-langkah nyata untuk meminimalkan penggunaan AI dalam industri musik. “Kami terapkan sistem registrasi khusus, termasuk pemeriksaan judul, latar belakang, dan penulis lagu, agar tidak ada pelanggaran kekayaan intelektual,” jelasnya. Menurutnya, Meeting Results ini menjadi momen penting untuk mengarahkan penggunaan AI ke arah yang lebih produktif.
Peran Pemerintah dalam Menyesuaikan Regulasi
Menurut Supratman, pemerintah sedang berupaya menyesuaikan regulasi dengan perkembangan teknologi AI. “Kami sedang merancang aturan baru agar karya yang dihasilkan oleh AI bisa tetap diakui, tetapi dengan batasan yang jelas,” terangnya. Ia menambahkan bahwa perlu ada keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak cipta. “AI bisa membantu kreativitas, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai manusiawi dalam seni,” tegas Menteri Supratman.
Supratman juga menyebutkan bahwa karya seni yang dihasilkan AI perlu diberi status khusus. “Kalau AI menghasilkan karya yang terkesan ‘otomatis’, maka kita harus menentukan apakah itu bisa dianggap sebagai karya manusia atau tidak,” jelasnya. Meeting Results ini menunjukkan bahwa regulasi akan menjadi penentu dalam mengatur hubungan antara AI dan seni.