Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
Business

Facing Challenges: Ekonom Beberkan Faktor Penyebab Turunnya Daya Saing RI ke Peringkat 48

Betty Smith - portalnara.com 3 mins read

ya Saing: Faktor-Faktor Utama yang Menyebabkan Facing Challenges - Menjelang hasil pengukuran IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026, ekonomi Indonesia

Facing Challenges: Ekonom Beberkan Faktor Penyebab Turunnya Daya Saing RI ke Peringkat 48

Indonesia Turun ke Peringkat 48 Daya Saing: Faktor-Faktor Utama yang Menyebabkan

Facing Challenges – Menjelang hasil pengukuran IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026, ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Peringkat daya saing negara ini turun ke posisi ke-48, menjauh dari peringkat ke-40 tahun sebelumnya. Peningkatan ini menggambarkan pelemahan kompetitivitas Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat. Dalam laporan tahunan ini, sebanyak 70 negara di seluruh dunia dinilai, termasuk negara-negara maju dan berkembang yang memiliki strategi ekonomi yang lebih matang.

Konteks Global dalam Penilaian Daya Saing Indonesia

Peringkat daya saing adalah indikator penting yang mengukur kemampuan suatu negara dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang mendukung pertumbuhan. Kenaikan indeks daya saing biasanya berkorelasi dengan peningkatan investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi challenges yang memengaruhi kemampuan daya saingnya. Terutama, faktor struktural dan kebijakan yang kurang konsisten menjadi sorotan utama.

“Penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD 2026 memang dipengaruhi oleh ketidakpastian global, mulai dari volatilitas geopolitik, tekanan inflasi, hingga pengetatan kondisi keuangan dunia,” ujar Yusuf Rendy Manilet, pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, kepada IDN Times, Kamis (25/6/2026). “Namun, jika melihat detail laporannya, persoalan utamanya justru bersifat struktural.”

Faktor Struktural yang Menyebabkan Penurunan Daya Saing

Yusuf mengungkapkan bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil dan inflasi terpantau rendah, beberapa indikator struktural mengalami penurunan signifikan. Faktor-faktor seperti kualitas institusi, efisiensi bisnis, serta infrastruktur pendukung menjadi sorotan. “Artinya, selama ini pertumbuhan ekonomi yang baik cenderung menutupi kelemahan mendasar yang kini mulai terlihat lebih jelas,” terangnya. Birokrasi yang lambat, regulasi yang tidak selaras, dan sistem pendidikan yang kurang memadai dikritik sebagai penghambat utama.

Salah satu challenges yang paling mengkhawatirkan adalah kualitas institusi yang masih lemah. Lebih dari 50% bisnis di Indonesia mengeluhkan keterlambatan pengambilan keputusan dan kebijakan yang sering berubah. Selain itu, akses ke layanan keuangan yang tidak merata juga meningkatkan risiko berusaha. Yusuf menambahkan bahwa pengelolaan risiko ekonomi masih belum optimal, sehingga daya tarik investasi mulai berkurang.

Kebijakan yang Belum Menghasilkan Efek Maksimal

Menurut Yusuf, reformasi yang telah dilakukan pemerintah belum sepenuhnya memperbaiki daya saing nasional. Indikator global kini semakin mengukur tata kelola, kepastian hukum, dan kemampuan lembaga dalam menciptakan lingkungan usaha yang bisa diprediksi. “Reformasi administratif dan penyederhanaan perizinan memang penting, tetapi tidak cukup jika belum diikuti penguatan kelembagaan yang konsisten,” lanjutnya. Kebijakan yang diambil seringkali bersifat sporadis dan kurang berkelanjutan.

Yusuf juga menyoroti paradoks dalam perekonomian Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi terjaga meski efisiensi usaha turun. Hal ini terjadi karena andil dari sektor pertanian dan energi yang masih mengandalkan komoditas. “Ketika dukungan dari komoditas mulai berkurang, kelemahan tersebut menjadi lebih terlihat,” jelasnya. Dengan challenges seperti inflasi yang masih tinggi dan ketergantungan pada ekspor, daya saing jangka panjang harus segera ditingkatkan.

Sebagai contoh, negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang terus meningkatkan investasi dalam teknologi dan pendidikan, sehingga mampu mempertahankan posisi mereka di papan atas. Sementara itu, Indonesia masih mengalami keterlambatan dalam menerapkan inovasi dan sistem pemerintahan yang lebih efisien. Yusuf menekankan bahwa pemerintah perlu menyusun strategi yang lebih jelas dan berkelanjutan untuk menangani challenges yang dihadapi.

Jalan Keluar: Strategi untuk Memperkuat Daya Saing

Penurunan peringkat daya saing menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera melakukan perbaikan. Perbaikan daya saing jangka panjang membutuhkan investasi pada sumber daya manusia, teknologi, serta penguatan sistem pendidikan dan layanan kesehatan. “Dengan kata lain, mesin pertumbuhan masih berjalan, tetapi fondasinya perlu diperkuat agar pertumbuhan tersebut tetap berkelanjutan,” pungkas Yusuf.

Untuk meningkatkan daya saing, Yusuf menyarankan pemerintah fokus pada kebijakan yang berorientasi pada produktivitas, bukan hanya pertumbuhan. Hal ini mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, perbaikan infrastruktur digital, serta optimalisasi regulasi untuk mendukung bisnis. “Pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh efisiensi usaha yang lebih baik,” tambahnya. Langkah-langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global dan mengurangi challenges yang dihadapi saat ini.

Leave a reply