Modal Asing Rp820 Miliar Cabut usai Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI
Modal Asing Rp820 Miliar Cabut usai pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Respons pasar modal Indonesia terhadap kepergian
Investor Asing Menarik Dana Rp820 Miliar Pasca Pengunduran Diri Perry Warjiyo
Portalnara.com – Modal Asing Rp820 Miliar Cabut usai pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Respons pasar modal Indonesia terhadap kepergian Perry Warjiyo menunjukkan ketidakpastian yang cukup signifikan. Pada sesi perdagangan Senin (27/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah di angka 6.185,5 sebelum melanjutkan penurunan hingga akhir hari. Penurunan tersebut mencapai 10,65 poin atau setara dengan 0,17 persen, menutup di level 6.185,78. Total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami penurunan menjadi Rp10.850 triliun.
Dalam perdagangan yang berlangsung, IHSG bergerak dalam rentang 6.144 hingga 6.219. Investor melakukan transaksi senilai Rp12,1 triliun dengan volume saham mencapai 26,02 miliar lembar. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,8 juta kali. Komposisi pelaku pasar menunjukkan dominasi investor domestik sebesar 65 persen, sementara investor asing menyumbang 35 persen. Investor dalam negeri mencatatkan aksi beli Rp8,36 triliun dan aksi jual Rp7,53 triliun. Sebaliknya, investor asing lebih agresif menjual dengan nilai Rp4,62 triliun dibandingkan pembelian Rp3,8 triliun, menghasilkan net sell bersih sebesar Rp820,22 miliar.
Analisis Ekonom dan Pengamat Pasar
Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menjelaskan bahwa pelaku usaha dan investor cenderung menunggu arah kebijakan bank sentral setelah Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI. Menurutnya, pengunduran diri mendadak memang berpotensi menimbulkan sentimen dan pertanyaan dari pasar. Modal Asing Rp820 Miliar Cabut merupakan cerminan dari kehati-hatian investor asing dalam menghadapi ketidakpastian kepemimpinan baru.
“Dalam jangka pendek, tentu akan muncul sentimen dan pertanyaan dari pelaku pasar terkait pengunduran diri yang dilakukan secara mendadak. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menilai dampaknya tidak akan terlalu besar,” ujar Yusuf kepada IDN Times.
Pendapat serupa disampaikan Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor. Ia menekankan bahwa pasar keuangan pada dasarnya tidak menyukai ketidakpastian, khususnya saat terjadi pergantian kepemimpinan di institusi strategis seperti bank sentral. Perubahan ini bukan disebabkan oleh pergeseran fundamental ekonomi Indonesia, melainkan oleh sifat pasar yang sensitif terhadap ketidakpastian kepemimpinan.
“Bukan karena fundamental ekonomi Indonesia berubah secara tiba-tiba, melainkan karena pasar keuangan pada dasarnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah suku bunga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan,” kata Hendra dalam keterangannya.
Hendra juga menyoroti bahwa sebelum adanya berita pengunduran diri Perry Warjiyo, pasar modal domestik sudah menghadapi sentimen negatif dari luar negeri. Kondisi global saat ini masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see.
Faktor Positif yang Membatasi Tekanan Pasar
Meskipun demikian, terdapat beberapa sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak ini dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, mengurangi tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menurunkan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha.
“Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, pelemahan harga minyak juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Hendra.
Secara keseluruhan, meskipun Modal Asing Rp820 Miliar Cabut menjadi perhatian utama, pasar Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian jangka pendek. Para ahli meyakini bahwa setelah periode penyesuaian awal, dampak pengunduran diri Perry Warjiyo terhadap pasar modal akan relatif terbatas. Investor diharapkan tetap waspada namun tidak perlu terlalu khawatir terhadap pergerakan pasar dalam jangka panjang.