Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

ILRC: Kasus Penyekapan di Bandung Mengarah ke Femisida

Lisa Rodriguez - portalnara.com 2 mins read

Bandung Mengarah ke Femisida ILRC - Kasus penyekapan yang dilakukan TH terhadap YTT, pacarnya di Bandung, dianggap sebagai bentuk kekerasan berbasis gender

ILRC: Kasus Penyekapan di Bandung Mengarah ke Femisida

ILRC: Kasus Penyekapan di Bandung Mengarah ke Femisida

ILRC – Kasus penyekapan yang dilakukan TH terhadap YTT, pacarnya di Bandung, dianggap sebagai bentuk kekerasan berbasis gender oleh Indonesian Legal Resource Center (ILRC). Peneliti dari lembaga tersebut, Tri Febi Maharani, mengungkap bahwa kejadian ini bukan sekadar penganiayaan, melainkan tanda awal dari pembunuhan berbasis gender terhadap perempuan (femicide).

Pola Kontrol dan Intimidasi

Korban mengalami disabilitas permanen, termasuk kehilangan fungsi penglihatan dan kemampuan berjalan. Hal ini menunjukkan upaya pelaku untuk mengurangi kemampuan korban dalam mempertahankan diri, melarikan diri, atau mencari bantuan. Tri Febi menekankan bahwa tindakan penyekapan bertujuan untuk mengisolasi korban dan menciptakan ketergantungan emosional serta mental.

“Biar gak bisa lari, gak bisa lapor, gak bisa mandiri yang akhirnya semakin memperkuat ketergantungan hidup dan matinya pada pelaku. Ini kejam sekali,” ujar Tri Febi, Selasa (23/6/2026).

Menurut Tri Febi, kekerasan dalam relasi pacaran sering berkembang secara bertahap, dengan pelaku mengontrol, membatasi kebebasan, dan mengintimidasi korban. Korban diasingkan dari lingkungan sosialnya, tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam, serta mengalami pukulan berulang.

Kekerasan Berbasis Gender Sebagai Masalah Publik

Kasus ini dianggap sebagai pengingat bahwa kekerasan dalam pacaran bukan hanya masalah pribadi, tapi juga masalah publik. ILRC mengajak masyarakat luas untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal kekerasan, seperti perilaku mengisolasi atau mengendalikan korban.

“Kenali tanda bahaya atau red flag dalam pacaran dan jangan ragu mencari bantuan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi dan tanda-tanda kekerasan yang dialami orang-orang di sekitar kita,” kata Tri Febi.

Kekerasan berbasis gender, menurutnya, sering diawali dengan kontrol dan dominasi, kemudian berkembang menjadi ancaman serius terhadap kehidupan korban. Semakin dini tanda-tanda tersebut dikenali, semakin besar kemungkinan untuk mencegah eskalasi kekerasan hingga terjadi femisida.

Leave a reply