Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

Jadi Tersangka Kasus Terorisme di Rusia, Ini Respons Pendiri Telegram

Lisa Rodriguez - portalnara.com 2 mins read

Pemerintah Rusia resmi menetapkan Pavel Durov, sang pendiri Telegram, sebagai tersangka dalam kasus dugaan fasilitasi aktivitas terorisme. Penetapan ini

Jadi Tersangka Kasus Terorisme di Rusia, Ini Respons Pendiri Telegram

Rusia Tetapkan Pavel Durov sebagai Tersangka Terorisme, Telegram dan Pendirinya Menanggapi

Portalnara.com – Pemerintah Rusia resmi menetapkan Pavel Durov, sang pendiri Telegram, sebagai tersangka dalam kasus dugaan fasilitasi aktivitas terorisme. Penetapan ini diumumkan pada hari Rabu, tanggal 29 Juli 2026. Sejalan dengan keputusan tersebut, otoritas setempat juga menerbitkan surat perintah penangkapan internasional untuk pengusaha berusia 41 tahun tersebut. Langkah ini menandai babak baru dalam ketegangan antara Moskow dan platform pesan instan terkait pengawasan ruang digital.

Tuduhan FSB dan Dampaknya

Dinas Keamanan Federal Rusia atau FSB menuduh Telegram membiarkan saluran komunikasi yang dimanfaatkan oleh intelijen Ukraina. Menurut FSB, platform gagal menghapus berbagai saluran, percakapan, dan bot yang digunakan untuk aksi sabotase serta terorisme di wilayah Rusia. Agen intelijen Ukraina diketahui memakai bot kencan bernama Daivinchik untuk merekrut warga Rusia dalam tindakan kriminal. Aparat setempat mengklaim telah menangkap 46 pengguna bot tersebut yang berusia 12 hingga 22 tahun.

Pengelola Telegram kami tuduh gagal menghapus berbagai saluran yang aktif digunakan oleh kelompok teroris dan ekstremis.

Berdasarkan tuduhan itu, Pavel Durov dijerat dengan pasal penyediaan fasilitas kegiatan terorisme. Jika terbukti bersalah di pengadilan Rusia, ia terancam hukuman penjara seumur hidup.

Respons Durov dan Telegram

Tidak lama setelah pengumuman tersebut, akun resmi Telegram di platform X mengunggah gambar Pavel Durov tanpa menyertakan pernyataan tertulis dari perusahaan. Secara terpisah, Durov menilai proses hukum yang menimpanya berakar dari sikapnya yang terus mempertahankan hak privasi dan kebebasan berekspresi di Telegram.

Tindakan mereka ini didasari tuduhan bahwa saya membela konstitusi Rusia, khususnya pasal yang menjamin kebebasan berpendapat dan kerahasiaan pesan.

Durov menganggap tuduhan ini disiapkan sebagai alasan bagi pemerintah Rusia untuk memblokir Telegram secara menyeluruh. Pendiri Telegram yang kini menetap di Dubai tersebut diketahui mengantongi kewarganegaraan Uni Emirat Arab dan Prancis.

Konteks Pembatasan dan Investigasi

Lembaga pengawas media Rusia, Roskomnadzor, telah memperketat pembatasan akses Telegram sejak tahun lalu. Kebijakan ini meliputi pembatasan kecepatan layanan hingga pemblokiran fitur panggilan suara dan video. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, membantah bahwa proses hukum terhadap Durov merupakan bentuk pembatasan atau sensor media sosial.

Memang benar kelompok teroris memakai Telegram, tetapi mereka juga memakai mobil. Mengapa pejabat tidak menangkap pimpinan produsen mobil?

Selain terjerat kasus di Rusia, Durov juga diselidiki otoritas Prancis atas dugaan kurangnya kerja sama dalam penanganan konten ilegal.

Leave a reply