Key Discussion: MPLS di Bekasi Hadirkan Guru Besar UGM dan ITB, Kenalkan AI-Coding
Key Discussion: MPLS di Bekasi Hadirkan Profesor UGM dan ITB, Kenalkan AI dan Coding Key Discussion - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Al Azhar
Key Discussion: MPLS di Bekasi Hadirkan Profesor UGM dan ITB, Kenalkan AI dan Coding
Key Discussion – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Al Azhar Insan Cendekia Jatibening (AICJ), Kota Bekasi, tahun ajaran 2026/2027 menghadirkan inovasi baru melalui program “Professor Goes to School” yang menyajikan wawasan tentang kecerdasan buatan (AI) dan coding. Sekolah ini menjadi salah satu institusi pendidikan yang menggali potensi siswa sejak awal dengan pendekatan berbeda, termasuk menampilkan para Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal ini diungkapkan oleh Ketua Yayasan Darul Muqomah, Sridjati Mustafa Kamil Tharir, yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis teknologi untuk menghadapi masa depan.
Program untuk Membangun Sikap Belajar yang Berkelanjutan
Mustafa menjelaskan bahwa MPLS tahun ini dirancang untuk menginspirasi siswa baru agar lebih termotivasi belajar. “Key Discussion kita menggabungkan konten akademik dengan interaksi langsung dengan pakar, sehingga mereka bisa memahami sekaligus merasakan dampak teknologi di dunia pendidikan,” katanya. Program ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada penerapan praktis. Selain itu, sekolah ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan komunitas akademik untuk memperkaya kurikulum.
“Key Discussion adalah tentang bagaimana teknologi bisa menjadi mitra belajar, bukan pengganti. AI dan coding harus dianggap sebagai alat yang memperkuat kemampuan kognitif siswa,” ujar Mustafa dalam wawancara eksklusif.
Menghadirkan Profesor sebagai Pemandu Pemikiran Kritis
Acara MPLS menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan dua tokoh akademis ternama, yaitu Baiquni dari UGM dan Muchtadi Intan Detiena dari ITB. Mereka memberikan materi yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh aspek pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Mustafa menambahkan, kehadiran para profesor ini bertujuan membangun kepercayaan siswa terhadap pengetahuan ilmiah dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap bidang teknologi.
Kegiatan ini menjadi inisiatif pertama di Kota Bekasi yang menggabungkan AI dan coding dalam pembelajaran awal. “Key Discussion sebelumnya kita hanya fokus pada teori, kini kita mengajak mereka berdiskusi dan merasakan teknologi dalam konteks nyata,” jelas Mustafa. Ia menyebutkan, selama program ini berlangsung, siswa diberi tugas sederhana seperti memprogram robot sederhana atau mengidentifikasi kegunaan AI dalam kehidupan sehari-hari, yang memicu antusiasme tinggi.
Kurikulum Pendidikan Masa Depan yang Mengintegrasikan Teknologi
Dalam Key Discussion, Mustafa menekankan bahwa adopsi AI di sekolah dasar adalah langkah strategis untuk menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin digital. “Key Discussion kita lihat teknologi bukan hanya alat bantu, tetapi juga komponen inti dari kemajuan pendidikan. Siswa perlu belajar cara memanfaatkan AI untuk menyelesaikan masalah,” katanya. Ia menjelaskan, program ini merupakan langkah awal dalam merancang kurikulum yang lebih inklusif dan modern, sejalan dengan kebutuhan masa depan.
Mustafa juga menyebutkan bahwa sekolah ini berencana mengembangkan kurikulum coding secara bertahap, mulai dari konsep dasar hingga aplikasi nyata. “Key Discussion kita tidak hanya ingin mereka mengenal teknologi, tetapi juga mampu mengaplikasikannya. Ini adalah upaya membangun kecakapan digital sejak dini,” tegasnya. Dengan peningkatan ini, AICJ berharap menjadi model pendidikan inovatif yang bisa diikuti oleh lembaga lain di Jawa Barat.
Kolaborasi Orang Tua dan Guru dalam Membentuk Karakter
Key Discussion menyebutkan bahwa program MPLS ini tidak hanya melibatkan para profesor, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dari orang tua. “Kami menyediakan sesi diskusi untuk orang tua agar mereka bisa mendukung anak-anak di rumah, seperti mempraktikkan coding secara sederhana,” jelas Mustafa. Ia menekankan bahwa pendekatan kolaboratif ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang harmonis antara sekolah dan keluarga.
Sebagai bagian dari Key Discussion, sekolah ini juga menggali minat siswa terhadap sains melalui berbagai eksperimen sederhana. Contohnya, siswa diberi kesempatan menguji kemampuan AI dalam mengenali pola dan menghasilkan prediksi. “Ini adalah cara efektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang dunia teknologi, sambil tetap menjaga nilai-nilai pendidikan dasar seperti etika dan kolaborasi,” tambah Mustafa.
Harapan untuk Membangun Kecintaan terhadap Ilmu Pengetahuan
Key Discussion di AICJ juga bertujuan memupuk rasa gemar terhadap sains dan teknologi. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenal AI dan coding, tetapi juga mencintai belajar. Ini adalah investasi jangka panjang,” kata Mustafa. Ia menambahkan, kegiatan ini akan menjadi agenda rutin setiap tahun ajaran baru, sejalan dengan visi sekolah untuk menjadi pusat pendidikan inovatif. “Key Discussion kita ingin menjadi contoh bagaimana sekolah bisa menggabungkan tradisi dan modernisasi dalam membentuk generasi muda yang tangguh,” pungkasnya.