Key Issue: LPEM UI: Perjalanan Prabowo ke Luar Negeri Hasilkan Emisi 10.002 Ton
Key Issue: Emisi Perjalanan Prabowo ke Luar Negeri Capai 10.002 Ton Key Issue terkini yang diangkat oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas
Key Issue: Emisi Perjalanan Prabowo ke Luar Negeri Capai 10.002 Ton
Key Issue terkini yang diangkat oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti keberlanjutan lingkungan dari perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Studi terbaru menunjukkan bahwa total emisi karbon dari kunjungan Prabowo ke 29 negara sejak Oktober 2024 mencapai 10.002,72 ton CO2, dengan data ini dipublikasikan dalam laporan Greenflag Series. Angka ini menggambarkan dampak signifikan dari penerbangan internasional, terutama dalam konteks perubahan iklim global.
Analisis Emisi Penerbangan dan Tantangan De-Karbonisasi
LPEM FEB UI menjelaskan bahwa emisi dari perjalanan Prabowo setara dengan 3.500 kali rata-rata emisi tahunan per orang di Indonesia, yang sekitar 2,87 ton CO2. Sector penerbangan dinilai sebagai salah satu penyumbang emisi global yang dominan, bahkan sebelum pandemi, industri ini memberikan kontribusi sekitar 2,5 persen dari total emisi CO2 dunia. Jika mempertimbangkan faktor non-CO2 seperti jejak kondensasi pesawat dan emisi nitrogen oksida (NOx), angka tersebut meningkat menjadi 3,5 hingga 4 persen.
“Penerbangan tetap menjadi sektor yang sulit dikurangi emisinya karena bahan bakar avtur memiliki kapasitas penyimpanan energi sekitar 40 kali lebih besar dibanding baterai tercanggih saat ini,”
tulis LPEM dalam laporan mereka. Teknologi baterai yang belum mampu mendukung penerbangan jarak jauh secara efektif menjadi tantangan utama, sementara peningkatan efisiensi pesawat hanya berkisar 1-2 persen per tahun, tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penumpang global yang mencapai 4-5 persen setiap tahun.
Studi ini juga menghitung jumlah pohon yang diperlukan untuk menetralkan emisi karbon dari perjalanan Prabowo dalam satu tahun. Hasilnya, diperlukan lebih dari 400 ribu pohon untuk menyerap seluruh emisi tersebut. Metode perhitungan menggunakan pendekatan Bansal (2021), yang mengacu pada jarak antarbandara dengan teknik great-circle distance atau Haversine. Angka emisi ditambahkan 10 persen untuk memperhitungkan faktor operasional dan rute penerbangan. Key Issue ini memberikan gambaran tentang efek lingkungan dari aktivitas transportasi udara.
Kasus Penyanyi Taylor Swift sebagai Referensi
Sebagai referensi, LPEM menyebutkan contoh perjalanan penyanyi Taylor Swift, yang pada 2022 menghasilkan sekitar 8.300 ton CO2 dari jet pribadinya. Pendekatan serupa digunakan untuk mengukur emisi dari kunjungan Prabowo, menekankan bahwa Key Issue dalam penerbangan internasional tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada skala nasional dan global. Studi ini menyoroti perluasan kesadaran tentang kontribusi pribadi terhadap emisi karbon, terutama dalam konteks pemimpin negara yang rutin melakukan perjalanan luar negeri.
Dari data jarak dan waktu terbang, LPEM FEB UI memperkirakan bahwa total emisi mencapai 10.002,72 ton CO2. Dampak lapisan atmosfer atas, yang menambah efek pemanasan global, juga dipertimbangkan dalam perhitungan ini. Angka ini menjadi indikator penting bagi Key Issue lingkungan dalam kebijakan pembangunan dan konservasi sumber daya alam. Studi ini tidak hanya mengungkap fakta, tetapi juga mendorong refleksi tentang peran individu dalam mengurangi jejak karbon.
Prabowo telah melakukan 54 kunjungan ke 29 negara sejak Oktober 2024, mencakup 83 leg penerbangan. Pesawat yang digunakan mencakup Boeing 737-700 BBJ (41 leg), Boeing 777-300ER (38 leg), dan Airbus A330-200 sewaan Comlux (4 leg). Malaysia menjadi tujuan utama, dengan lima kunjungan, sementara Prancis dan Inggris masing-masing empat kali. Dalam September 2025, emisi mencapai puncak dengan 1.609 ton CO2, ketika Prabowo melakukan 10 leg penerbangan ke tujuh negara, mulai dari Doha hingga Amerika Serikat.
Nilai ekonomi emisi tersebut diestimasi sebesar Rp16,53 miliar, berdasarkan harga izin karbon Uni Eropa per 29 Mei 2026 seharga 80,63 euro per ton dan kurs Rp20.500 per euro. Key Issue ini menyoroti bahwa perjalanan internasional tidak hanya memerlukan investasi besar dalam infrastruktur, tetapi juga memberikan tanggung jawab lingkungan yang signifikan. LPEM FEB UI menegaskan bahwa temuan ini menjadi pedoman untuk memahami dampak penerbangan dalam konteks keberlanjutan dan mencari solusi terpadu untuk mengurangi emisi karbon.
Studi ini memberikan gambaran bahwa Key Issue dalam penerbangan internasional tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi kebijakan lingkungan nasional. Dengan data yang akurat, LPEM FEB UI berharap mendorong transformasi pola transportasi udara, serta kesadaran publik terhadap kontribusi kecil atau besar dari perjalanan luar negeri. Dalam konteks perubahan iklim, perjalanan Prabowo ke luar negeri menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan rutin dapat berkontribusi pada isu global.