Key Strategy: AMPG Kecam Deddy Sitorus Sebut Bahlil Bolu Ketan, Desak Minta Maaf
Key Strategy: AMPG Kecam Deddy Sitorus karena Pernyataan Bolu Ketan Key Strategy - Jakarta, Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menyampaikan kecaman
Key Strategy: AMPG Kecam Deddy Sitorus karena Pernyataan Bolu Ketan
Key Strategy – Jakarta, Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, yang menggunakan julukan “si bolu ketan” untuk menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Pernyataan tersebut dianggap merendahkan dan mengarah pada serangan pribadi terhadap figur penting dalam politik nasional.
Penjelasan AMPG tentang Nuansa Merendahkan
Dalam pernyataannya, Sedek Bahta, Wakil Ketua Umum PP AMPG, mengkritik julukan yang diberikan Deddy karena dianggap mengandung nuansa tidak santun. Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah seperti “si bolu ketan” tidak hanya mencerminkan kehilangan kesusilaan dalam politik, tetapi juga menggambarkan kemunduran nilai-nilai demokrasi. “Key Strategy dalam berpolitik harus didasari argumen yang kuat, bukan sekadar serangan verbal yang bisa merusak reputasi seseorang,” tutur Sedek dalam siaran pers, Selasa (14/7/2026).
Menurut Sedek, tindakan Deddy berpotensi menyebarkan narasi politik yang tidak seimbang. Julukan tersebut, menurutnya, muncul dari asumsi yang tidak terbukti, dan bisa mengarah pada tindakan diskriminatif terhadap Bahlil. “Key Strategy dalam mengkritik kebijakan memerlukan bukti konkret, bukan hanya opini publik yang dianggap sebagai alat untuk mendiskreditkan pihak tertentu,” imbuhnya.
Analisis Konteks Pernyataan Deddy Sitorus
AMPG juga mengungkapkan bahwa julukan “si bolu ketan” diberikan Deddy dalam konteks diskusi tentang kinerja Menteri ESDM. Pernyataan tersebut menurutnya dipicu oleh konflik kepentingan dalam pengelolaan batu bara untuk PLTU. Namun, Sedek menekankan bahwa julukan tersebut tidak didasari fakta hukum yang jelas, sehingga dianggap sebagai upaya menjatuhkan kredibilitas Bahlil secara pribadi.
Key Strategy dalam menyampaikan kritik kebijakan politik, menurut AMPG, seharusnya menggunakan pendekatan objektif dan data yang mendukung argumennya. Julukan “si bolu ketan” dianggap tidak memadai karena kurang menggambarkan alasan spesifik dalam kritik yang dilakukan Deddy. “Key Strategy dalam pemberitaan harus memperhatikan keakuratan informasi dan kemampuan menghindari pelecehan terhadap tokoh politik,” jelas Sedek.
Pernyataan Deddy sendiri dipicu oleh sejumlah isu terkait proyek energi yang dianggap memperoleh keuntungan besar tanpa transparansi yang memadai. Namun, AMPG menilai bahwa julukan tersebut tidak hanya memperparah kesan negatif, tetapi juga mengabaikan peran Bahlil sebagai pihak yang menjalankan kebijakan teknis di sektor energi. “Key Strategy dalam politik adalah berbicara dengan fakta, bukan dengan narasi yang bisa memanipulasi persepsi publik,” tambahnya.
Peran AMPG dalam Menjaga Martabat Partai
AMPG mengingatkan bahwa tindakan menyerang pribadi tokoh partai seperti Bahlil Lahadalia bisa menggangu harmoni dalam koalisi politik. “Key Strategy dalam berkoalisi adalah menjaga sikap hormat dan keadilan dalam mengkritik, terlepas dari perbedaan pandangan,” tutur Sedek. Ia menekankan bahwa julukan “si bolu ketan” dapat merusak citra partai Golkar, yang sudah memiliki reputasi sebagai partai yang berprestasi di bidang energi.
Dalam rangka menegakkan key strategy dalam dunia politik, Sedek menyatakan bahwa AMPG akan terus memantau penerapan prinsip etika berpolitik. Ia juga meminta kepada Deddy Sitorus untuk segera memperbaiki sikapnya dan meminta maaf kepada publik, agar konflik ini tidak terus berkembang menjadi isu besar. “Key Strategy dalam hubungan politik adalah menjaga kesantunan dan kredibilitas, khususnya terhadap tokoh yang dipercaya masyarakat,” lanjutnya.
Selain itu, AMPG menyoroti bahwa tindakan menyerang Bahlil Lahadalia tidak hanya terkait dengan isu distribusi batu bara, tetapi juga menggambarkan kurangnya konsistensi dalam key strategy kritik politik. Julukan tersebut, menurutnya, bisa menimbulkan kesan bahwa Deddy menggunakan bahasa yang tidak profesional untuk meraih dukungan publik. “Key Strategy dalam mengkritik harus memperhatikan dampaknya terhadap citra dan kredibilitas partai serta individu yang dikritik,” pungkas Sedek.