Skip to content
Royal desk
Agustus 2, 2026 PortalNara adalah sumber informasi terkini tentang teknologi, startup
News

Latest Update: Khalil Al Hayya Jadi Pemimpin Baru Hamas Gantikan Yahya Sinwar

Jennifer Johnson - portalnara.com 2 mins read

Sinwar Meninggal Latest Update - Hamas secara resmi mengumumkan Khalil Al Hayya sebagai pemimpin baru pada 20 Juli 2026, setelah pemilihan internal yang

Latest Update: Khalil Al Hayya Jadi Pemimpin Baru Hamas Gantikan Yahya Sinwar

Khalil Al Hayya Menjadi Pemimpin Baru Hamas Setelah Yahya Sinwar Meninggal

Latest Update – Hamas secara resmi mengumumkan Khalil Al Hayya sebagai pemimpin baru pada 20 Juli 2026, setelah pemilihan internal yang berlangsung dalam situasi keamanan yang kritis. Ia menggantikan Yahya Sinwar, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Israel pada Oktober 2024. Al Hayya, mantan wakil ketua organisasi, memperoleh suara mayoritas dalam pemungutan suara tersebut, mengalahkan Khaled Meshaal, mantan pemimpin politik Hamas.

Proses Pemilihan dan Dukungan Militer

Pemilihan ini diumumkan setelah proses yang rumit dan rahasia, terutama karena tekanan dari situasi keamanan yang tidak stabil. Sayangnya, tidak semua anggota Hamas sepakat dengan hasil pemilu ini, dengan sebagian menyatakan dukungan penuh kepada Al Hayya, sementara yang lain masih mengecam perubahan kepemimpinan yang terjadi. Sayangnya, Latest Update menunjukkan bahwa pihak Brigade Al-Qassam, sayangnya militer Hamas, telah menyatakan dukungan penuh kepada Al Hayya, menegaskan keputusan tersebut sebagai langkah yang diambil dalam konteks kebutuhan strategis organisasi.

Khalil Al Hayya, yang lahir di Gaza pada tahun 1960, telah lama terlibat dalam kegiatan Hamas sejak kelompok tersebut didirikan pada 1987. Menurut Al Jazeera, ia merupakan pengikut dari Sheikh Ahmed Yassin, pendiri Hamas, yang ia temui pada tahun 1980. Dalam perjalanan karier politiknya, Al Hayya juga memperoleh gelar doktor bidang studi Islam dari universitas di Sudan, menjadikannya tokoh yang dihargai dalam dunia akademik dan politik Palestina.

Sejarah Keterlibatan dengan Israel

Dalam sejarahnya, Khalil Al Hayya pernah ditahan oleh Israel selama tiga tahun pada awal 1990-an. Pengalaman ini memberinya wawasan mendalam tentang tindakan militer Israel dan kekuatan politik organisasi. Setelah dibebaskan, ia berperan penting dalam memimpin negosiasi gencatan senjata serta pertukaran tawanan dari basis operasionalnya di Qatar, menunjukkan kemampuannya dalam menghadapi tekanan internasional.

Al Hayya juga sering menjadi korban serangan Israel. Pada 2007, serangan udara yang ditujukan kepadanya mengakibatkan kematian tujuh anggota keluarga. Tragedi ini kembali terjadi pada 2014 saat Israel mengebom rumahnya di Kota Gaza, merenggut nyawa putra sulungnya, Osama, serta istrinya, anak-anaknya, dan 19 kerabat. Namun, ia berhasil lolos pada September 2025 setelah pesawat tempur Israel menyerang kompleks perumahan di Doha, menewaskan putranya, Hammam, serta direktur kantornya, Jihad Labad.

Perubahan kepemimpinan ini menurut Latest Update berdampak signifikan terhadap strategi Hamas, terutama dalam konteks perang melawan Israel. Dengan memperkuat hubungan dengan sayap militer, Al Hayya diharapkan mampu memberikan arah baru dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Pemimpin baru ini juga akan menghadapi tantangan dalam menjaga konsensus internal dan memperkuat posisi Hamas di lingkungan internasional.

Dalam Latest Update, pihak Hamas menyatakan bahwa pemilihan baru ini adalah bagian dari perencanaan jangka panjang mereka sejak 2021, ketika mereka mulai mengubah struktur organisasi. Meskipun beberapa anggota masih skeptis, keputusan ini dianggap sebagai langkah penting untuk memastikan kelangsungan operasional Hamas di tengah ancaman yang terus mengintai. Perubahan ini juga memberikan ruang bagi pendekatan politik yang lebih agresif, terutama dalam menjelang putaran negosiasi berikutnya.

Leave a reply