New Policy: Tinjau Proyek Strategis Tuban, Komut Pertamina Lakukan Tiga Hal Ini
Tinjau Proyek Strategis Tuban, Komut Pertamina Fokus pada Tiga Aspek Utama New Policy - Dalam rangka menerapkan New Policy yang lebih luas, Komisaris Utama PT
Tinjau Proyek Strategis Tuban, Komut Pertamina Fokus pada Tiga Aspek Utama
New Policy – Dalam rangka menerapkan New Policy yang lebih luas, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, melakukan inspeksi langsung ke sejumlah proyek strategis dan infrastruktur energi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional. Dengan New Policy yang menjadi panduan utama, Iriawan memprioritaskan tiga aspek kunci, yaitu pengawasan pembangunan kilang baru, evaluasi terminal distribusi, dan perbaikan sistem jaringan pipa.
Kilang Baru sebagai Pilar Kemandirian Energi
Salah satu proyek utama yang ditinjau adalah New Grass Root Refinery (NGRR), bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Kilang ini dirancang sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar dan memperkuat kapasitas produksi energi dalam negeri. Proses pembangunan NGRR menurut Iriawan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan energi Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti kenaikan harga minyak dan perubahan pola konsumsi.
“Dengan New Policy yang dijalankan, kita memastikan setiap proyek strategis ini tidak hanya berjalan tepat waktu, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat,” kata Iriawan.
Dalam evaluasi, Iriawan menekankan pentingnya koordinasi antara berbagai stakeholder untuk mempercepat proses pembangunan. Proyek NGRR yang diharapkan selesai dalam beberapa tahun ke depan, akan menjadi pusat produksi energi yang terintegrasi dengan kompleks petrokimia, sehingga mampu memenuhi kebutuhan nasional dan meningkatkan daya saing industri energi dalam negeri.
Terminal LPG dan Fungsi Distribusi Energi
Kunjungan Komut Pertamina juga mencakup Terminal LPG Refrigerated Jawa Timur, yang merupakan infrastruktur strategis dalam sistem distribusi energi. Terminal ini diperkirakan mampu memenuhi sekitar 35-40 persen kebutuhan LPG nasional, memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas pasokan. Iriawan menegaskan bahwa New Policy memberikan arahan jelas untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mengurangi risiko kehilangan produk.
“Terminal ini menjadi poros utama distribusi, terutama di wilayah Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara. Dengan New Policy yang berfokus pada inovasi dan optimalisasi, kita bisa mengurangi waktu dan biaya transportasi, serta memastikan pasokan energi mencapai wilayah terpencil secara efektif,” ujarnya.
FT Tuban, yang merupakan bagian dari sistem terminal distribusi, memiliki kapasitas penyimpanan hingga 305.192 kiloliter. Operasional terminal ini diklaim mampu menangani volume distribusi harian sekitar 27.000 kiloliter. Dalam New Policy, Pertamina juga menekankan penguatan jaringan pipa sebagai sarana distribusi utama, yang saat ini mendukung 58 persen penyaluran gas.
Penguatan Infrastruktur untuk Menunjang New Policy
Sebagai bagian dari New Policy, Pertamina terus berupaya memperbaiki kualitas infrastruktur energi untuk memastikan ketahanan pasokan dalam kondisi dinamis. Iriawan menyebutkan bahwa dalam perjalanan proyek, masalah teknis dan logistik sering muncul, tetapi dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi, proyek bisa berjalan lebih lancar.
Pembangunan kilang dan terminal di Tuban, menurut Iriawan, bukan hanya tentang skala fisik, tetapi juga tentang pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. “Kita harus memastikan bahwa setiap proyek yang dikerjakan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berdampak pada lingkungan dengan mengurangi emisi dan efisiensi penggunaan energi,” jelasnya.
Dalam konteks New Policy, Pertamina juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi terkini dalam pengoperasian terminal dan kilang. Penerapan sistem refrigerasi di Terminal LPG, misalnya, bertujuan untuk meminimalkan penguapan produk, sehingga memperpanjang masa simpan dan mengurangi kerugian material. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menekankan penggunaan energi terbarukan dan efisiensi energi.